REKLAMASI LAHAN BEKAS ALANG-ALANG DENGAN PENGEMBALIAN BIOMASSANYA DAN APLIKASI KOMPOS PADA DUA RN SISTEM TANAM JAGUNG MANIS DAN KEDELAI | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES

REKLAMASI LAHAN BEKAS ALANG-ALANG DENGAN PENGEMBALIAN BIOMASSANYA DAN APLIKASI KOMPOS PADA DUA RN SISTEM TANAM JAGUNG MANIS DAN KEDELAI


Pengarang

Jumini - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

0092040009

Fakultas & Prodi

Fakultas Pasca Sarjana / Konservasi Sumber Daya Lahan (S2) / PDDIKTI : 54153

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : prog. studi magister pertanian., 2003

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

JUMINI. Reklamasi Lahan Bekas Alang-alang dengan Pengembalian Biomassanya dan Aplikasi Kompos pada Dua Sistem Tanam Jagung Manis dan Kedelai di bawah bimbingan Sufardi sebagai Ketua dan Kamarlis Karim sebagai Anggota.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengembalian biomassa alang-alang dan pemberian kompos terhadap bcberapa sifat fisika dan kimia tanah pada dua sistem tanam jagung manis dan kedelai, serta untuk menentukan dosis kompos yang paling baik pengaruhnya terhadap produktifitas tanah lahan serta hasil jagung manis dan kedelai pada dua sistem tanam (monokultur dan tumpangsari).
Penelitian dilaksanakan di Desa Beurawe, Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh, pada tanah Ordo Entisol yang ditumbuhi alang-alang, yang berlangsung dari bulan September 2002 sampai dengan Februari 2003.
Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial 2 x 3 x 3. Ada tiga faktor yang diteliti yaitu pengembalian biomassa, dosis kompos dan sistem lanam. Pengembalian biomassa terdiri·atas dua taraf yaitu tanpa pengembalian biomassa dan pengembalian biomassa. Dosis kompos terdiri atas 3 taraf yaitu 0, 10 dan 20 ton ha', sedangkan sistem tanam terdiri atas 3 taraf yaitu monokultur jagung manis, monokultur kedelai dan turnpangsari antara jagung manis dengan kedelai.
Peubah yang diarnati meliputi: tinggi tanaman umur 15, 30 dan 45 hari setelah tanam, laju tumbuh relatif umur 3 dan 5 minggu setelah tanarn, hasil jagung manis dengan kelobot dan hasil biji kering kedelai, Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL), Indeks Kompetisi (IK), Nisbah Ekonomi Lahan (NEL), bobot isi dan porositas total tanah, pH HO, P tersedia, C organik dan N total tanah.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengembalian biomassa alang-alang tidak nyata mempengaruhi tinggi tanaman umur 15, 30 dan 45 hari, laju tumbuh relatif serta-hasil jagung manis dan kedelai yang di tanam secara monokultur dan tumpngasari. Pemberian kompos sangat nyata mempengaruhi tinggi tanaman jagung manis umur 30 hari dan nyata pada umur 45 hari akan tetapi terhadap tinggi tanaman urnur 15 hari laju tumbuh relatif dan hasil jagung manis pengaruhnya tidak nyata, begitu juga terhadap tinggi tanarnan kedelai umur 15, 30 dan 45 hari, laju tumbuh relatif dan hasil kedelai. Terdapat interaksi yang nyata antara perlakuan pengembalian biomassa alang alang, dosis kompos dan sistem tanam terhadap hasil jagung manis (tangkol beserta kelobotnya) dan hasil biji kering kedelai, akan tetapi tidak nyata terhadap tinggi tanarnan dan laju tumbuh relatif. Hasil jagung manis yang paling tinggi (16,07 ton ha') diperoleh pada kombinasi perlakuan tanpa biomassa alang alang , dosis kompos 10 ton ha' dan sistem tanam monokultur, sedangkan hasil kedelai tertinggi diperoleh pada kombinasi perlakuan pengembalian biomassa alang-alang, dosis kompos 20 ton ha'' dan sistem tanam monokultur. Hasil jagung manis pada sistem tanam monokultur berbeda nyata dengan hasil jagung manis pada sistem tanam tumpangsari.
Penanaman jagung manis dan kedelai secara tumpangsari dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, walaupun ada kecendrungan hasil yang dicapai oleh masing masing tanaman tersebut sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan sistem monokultur. Nilai NKL (3,01) dan NEL (3,41) yang paling tinggi dengan IK yang paling rendah (-0,95) diperoleh pada pemberian kompos 20 ton ha' pada lahan yang biomassanya dikembalikan ke dalam tanah. Fakta ini menunjukkan bahwa sistem tanam tumpangsari pada perlakuan tersebut lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Pengembalian biomassa alang alang sebanyak 7,8 ton ha' dan pemberian kompos hingga dosis 20 ton ha' berpengaruh sangat nyata dalam meningkatkan pH HO dan P tersedia tanah, tetapi tidak nyata dalam meningkatkan kadar C organik dan N total tanah serta dalam memperbaiki beberapa sifat fisika tanah (bobot isi dan porositas total). Nilai pH tanah tertinggi diperoleh pada pemberian kompos 20 ton ha'' pada sistem tanam tumpangsari. Pada kombinasi perlakuan tersebut nilai pH tanah meningkat dari agak masam menjadi netral, sedangkan P tersedia yang paling tinggi dicapai pada dosis kompos 10 ton ha'' pada sistem tanam yang sama, dimana nilai P tersedia tanah meningkat dari sangat rendah menjadi tinggi.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK