<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="154509">
 <titleInfo>
  <title>PENERAPAN METODE GROUND PENETRATING RADAR (GPR) UNTUK IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DI SITUS BENTENG GUNUNG BIRAM, ACEH BESAR</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>MUHAMMAD FARHAN</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik Geofisika</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Benteng Gunung Biram merupakan situs arkeologi di Gampong Lamtamot, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar yang perlu dilestarikan sebagai objek cagar budaya. Namun, terdapat banyak tantangan untuk pelestarian situs tersebut. Oleh karena itu, identifikasi struktur bawah permukaan telah dilakukan menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR) dengan frekuensi 700 MHz dan 250 MHz. Metode GPR digunakan karena dapat menampilkan struktur bawah permukaan yang dangkal dengan resolusi yang tinggi. Metode GPR diaplikasikan pada 3 lintasan pengukuran yang berada di atas Benteng Gunung Biram. Radargram yang telah diperoleh kemudian diolah menggunakan software GPRPy untuk memperoleh sinyal refleksi secara lebih jelas. Interpretasi radargram GPR pada seluruh lintasan didapatkan kedalaman sedalam 1.5 m. Interpretasi GPR frekuensi 700 MHz dan 250 MHz menghasilkan radargram yang sama dengan kedalaman yang sangat dangkal, namun batas antar lapisan terlihat lebih jelas pada frekuensi 700 MHz. Data hasil ekskavasi yang diambil dari dua titik pengukuran, mendukung interpretasi dari metode GPR. Berdasarkan data ekskavasi, terdapat serakan batu-batu alam yang tidak beraturan. Batuan disusun sedemikian rupa sehingga menciptakan susunan yang masif dan kuat. Sistem pembangunan seperti ini disebut dengan mass construction atau system konstruksi massa. Berdasarkan radargram GPR yang didapatkan, kawasan penelitian didominasi oleh tanah lempung, lempung pasiran, lempung basah, dan batu alam. Hasil dari penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai struktur bawah permukaan, sehingga dapat dijadikan acuan dalam perencanaan konservasi yang lebih efektif di situs Benteng Gunung Biram.&#13;
Kata kunci: gpr, benteng, arkeologi, radargram&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>154509</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-04-23 12:05:53</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-04-24 08:54:19</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>