Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KONSTRUKSI SOSIAL MASYARAKAT TERHADAP TRADISI JAK BISAN DI GAMPONG KULU KABUPATEN NAGAN RAYA
Pengarang
Nuri Lhutfiyati - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Siti Ikramatoun - 199007012019032024 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
1910101010088
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Sosiologi (S1) / PDDIKTI : 69201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik., 2025
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
ABSTRAK
Nagan Raya merupakan salah satu kabupaten di wilayah Aceh yang masyarakatnya masih mementingkan harmonisasi terhadap aturan, kebiasaan, serta menghindari adanya perbedaan yang mencolok antar gampong dalam menerapkan tradisi dalam masyarakat. Salah satu adat yang masih berkembang dari dulu hingga sekarang di Kabupaten Nagan Raya yaitu tradisi jak bisan yang diwariskan secara turun-temurun. Sebagian masyarakat di Kabupaten Nagan Raya sendiri menganggap tradisi jak bisan berlebihan, meskipun demikian tradisi ini masih tetap dijalankan oleh masyarakatnya. Masyarakat merasa tradisi jak bisan memberatkan mempelai perempuan dan masyarakat yang ikut serta dalam pelaksanaan tradisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi sosial yang terjadi pada masyarakat Kabupaten Nagan Raya terkhususnya Gampong Kulu dalam menjaga dan melestarikan tradisi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pada tahap eksternalisasi tradisi jak bisan disebarkan dan diajarkan agar dapat dipahami dan diterima oleh individu lainnya seperti generasi muda dan masyarakat luar daerah. Tahapan objektivasi yang di mana masyarakat menganggap tradisi jak bisan sebagai tanggung jawab sosial yang harus terus dilestarikan, selain itu tradisi ini telah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Nagan Raya setelah menikah. Pada tahap terakhir yaitu internalisasi, tradisi jak bisan yang awalnya dianggap sebagai kewajiban eksternal kemudian dipahami dan diterima sebagai identitas sosial menantu atau mempelai perempuan, bukan hanya ritual sosial yang dilakukan sekali dalam pernikahan. Tradisi jak bisan harus terus direfleksikan agar konstruksi sosial tidak mengarah pada dominasi yang tidak adil sehingga menghindari persepsi masyarakat bahwa tradisi ini berlebihan.
Kata kunci: Tradisi, Konstruksi sosial, Kabupaten Nagan Raya
ABSTRACT Nagan Raya is one of the regencies in the Aceh region whose people still prioritize harmony with rules, customs, and avoid striking differences between villages in implementing traditions in society. One of the customs that has developed from the past to the present in Nagan Raya Regency is the jak bisan tradition which is passed down from generation to generation. Some people in Nagan Raya Regency consider the jak bisan tradition excessive, even so, this tradition is still carried out by its people. The community feels that the jak bisan tradition burdens the bride and the community who participate in implementing this tradition. This study aims to analyze the social construction that occurs in the community of Nagan Raya Regency, especially Kulu Village, in maintaining and preserving this tradition. The method used in this study is qualitative with a phenomenological approach. Data collection techniques are obtained from interviews, observations, and documentation. At the externalization stage, the jak bisan tradition is disseminated and taught so that it can be understood and accepted by other individuals such as the younger generation and people from outside the area. The objectivation stage where society considers the jak bisan tradition as a social responsibility that must continue to be preserved, in addition this tradition has become a habit carried out by the people of Nagan Raya Regency after marriage. In the last stage, namely internalization, the jak bisan tradition which was initially considered an external obligation is then understood and accepted as the social identity of the daughter-in-law or bride, not just a social ritual that is carried out once in a marriage. The jak bisan tradition must continue to be reflected so that social construction does not lead to unfair domination, thus avoiding the public perception that this tradition is excessive. Keywords: Tradition, Social construction, Nagan Raya Regency
NILAI GOTONG ROYONG DALAM TRADISI MAULID UNTUK MENINGKATKAN SEMANGAT KESATUAN MASYARAKAT DI GAMPONG NIGAN KABUPATEN NAGAN RAYA (Ulil fitria salsabila, 2023)
KEMAMPUAN LARI JARAK PENDEK 50 METER PADA SISWA SD NEGERI I KULU KABUPATEN NAGAN RAYA TAHUN PELAJARAN 201312014 (M. ALI, 2014)
KONSTRUKSI NILAI-NILAI SOSIAL MELALUI TRADISI KUAH BEULANGONG DI GAMPONG KAYEE LEE KECAMATAN INGIN JAYA ACEH BESAR (FAISAL, 2022)
NILAI NILAI RELIGIUS YANG TERKANDUNG DALAM TRADISI KHANDURI BLANG DI MASYARAKAT GAMPONG LHOK PANGE KECAMATAN SEUNAGAN TIMUR KABUPATEN NAGAN RAYA (Anur maulidar, 2023)
RESOLUSI KONFLIK PASCA PEMILIHAN KEUCHIK DI GAMPONG KULU KECAMATAN SEUNAGAN KABUPATEN NAGAN RAYA (FAHLUL REZI, 2024)