<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="154045">
 <titleInfo>
  <title>KONSTRUKSI SOSIAL MASYARAKAT TERHADAP TRADISI JAK BISAN DI GAMPONG KULU KABUPATEN NAGAN RAYA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Nuri Lhutfiyati</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Politik</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
&#13;
Nagan Raya merupakan salah satu kabupaten di wilayah Aceh yang masyarakatnya masih mementingkan harmonisasi terhadap aturan, kebiasaan, serta menghindari adanya perbedaan yang mencolok antar gampong dalam menerapkan tradisi dalam masyarakat. Salah satu adat yang masih berkembang dari dulu hingga sekarang di Kabupaten Nagan Raya yaitu tradisi jak bisan yang diwariskan secara turun-temurun. Sebagian masyarakat di Kabupaten Nagan Raya sendiri menganggap tradisi jak bisan berlebihan, meskipun demikian tradisi ini masih tetap dijalankan oleh masyarakatnya. Masyarakat merasa tradisi jak bisan memberatkan mempelai perempuan dan masyarakat yang ikut serta dalam pelaksanaan tradisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi sosial yang terjadi pada masyarakat Kabupaten Nagan Raya terkhususnya Gampong Kulu dalam menjaga dan melestarikan tradisi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pada tahap eksternalisasi tradisi jak bisan disebarkan dan diajarkan agar dapat dipahami dan diterima oleh individu lainnya seperti generasi muda dan masyarakat luar daerah. Tahapan objektivasi yang di mana masyarakat menganggap tradisi jak bisan sebagai tanggung jawab sosial yang harus terus dilestarikan, selain itu tradisi ini telah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Nagan Raya setelah menikah. Pada tahap terakhir yaitu internalisasi, tradisi jak bisan yang awalnya dianggap sebagai kewajiban eksternal kemudian dipahami dan diterima sebagai identitas sosial menantu atau mempelai perempuan, bukan hanya ritual sosial yang dilakukan sekali dalam pernikahan. Tradisi jak bisan harus terus direfleksikan agar konstruksi sosial tidak mengarah pada dominasi yang tidak adil sehingga menghindari persepsi masyarakat bahwa tradisi ini berlebihan.&#13;
Kata kunci: Tradisi, Konstruksi sosial, Kabupaten Nagan Raya</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>154045</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-04-21 15:55:11</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-04-22 09:51:06</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>