STIGMA GANDA TERHADAP LAKI-LAKI KORBAN “CATCALLING” DI KOTA BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

STIGMA GANDA TERHADAP LAKI-LAKI KORBAN “CATCALLING” DI KOTA BANDA ACEH


Pengarang

Rahmad Rizky - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Yuva Ayuning Anjar - 199301082019032020 - Dosen Pembimbing I
Siti Ikramatoun - 199007012019032024 - Penguji
Nurul Fajri - 199102262022032009 - Penguji



Nomor Pokok Mahasiswa

2010101010062

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Sosiologi (S1) / PDDIKTI : 69201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sosiologi., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Penelitian ini mengkaji fenomena stigma ganda terhadap laki-laki yang menjadi korban catcalling di Kota Banda Aceh. Menggunakan metode fenomenologi, untuk menggali makna subjektif yang dihasilkan dari pengalaman korban laki-laki, dalam konteks sosial dan budaya lokal. Kajian ini menunjukkan meskipun catcalling secara umum dianggap sebagai bentuk pelecehan verbal, namun kerap kali diabaikan, ketika dialami oleh laki-laki. Bagi banyak laki-laki, catcalling dipandang sebagai bentuk gangguan yang memalukan dan merendahkan, yang mengarah pada perasaan tidak berdaya dan hilangnya rasa percaya diri. Hal ini sering kali bertentangan dengan ekspektasi masyarakat yang menuntut laki-laki untuk selalu tampil kuat dan tidak rentan. Oleh karena itu, banyak laki-laki yang enggan mengakui atau melaporkan pengalaman tersebut, mengigat stigma yang melekat pada mereka sebagai “pria sejati” yang seharusnya tidak terpengaruh oleh perlakuan semacam itu. Yang menyebabkan dampak psikologis yang signifikan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengidentifikasi persepsi masyarakat terhadap catcalling, dan dampak dari stigma ganda yang dihadapi laki-laki sebagai korban catcalling, serta bagaimana maskulinitas hegemonik membentuk kontruksi sosial, yang mempengaruhi pengakuan laki-laki sebagai korban, karena tidak sesuai dengan stereotipe maskulinitas di masyarakat. Berdasarkan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap korban laki-laki serta masyarakat Kota Banda Aceh. Temuan penelitian ini menunjukkan, bahwasanya catcalling sering terjadi di ruang publik, dan norma maskulinitas hegemonik bertanggung jawab menuntut laki-laki untuk selalu tampak dominan dan tidak rentan, yang menghalangi mereka untuk mengakui ataupun melaporkan pengalaman tersebut. Selain itu, stigma sosial yang menepatkan laki-laki harus kuat dan tidak merasa lemah juga menyebabkan isolasi sosial. Sehingga penelitian ini, merekomendasikan pentingnya edukasi dan peningkatan kesadaran mengenai kekerasan berbasis gender, termasuk catcalling terhadap laki-laki di berbagai tingakatan pendidikan, baik formal maupun informal. Serta menyediakan ruang aman bagi korban laki-laki untuk berbagi pengalaman dan mencari dukungan, tanpa rasa takut akan stigma.

Kata kunci: Catcalling, Gender, Stigma, Maskulinitas Hegemonik

This study examines the phenomenon of double stigma against men who become victims of catcalling in Banda Aceh, using a phenomenological method to explore the subjective meaning derived from the experiences of male victims within the context of local social and cultural norms. The study shows that although catcalling is generally considered a form of verbal harassment, it is often overlooked when experienced by men, resulting in significant psychological impacts. For many men, catcalling is perceived as a form of disruption that is embarrassing and demeaning, leading to feelings of powerlessness and a loss of self-confidence. This often conflicts with societal expectations that demand men to always appear strong and invulnerable. As a result, many men are reluctant to acknowledge or report these experiences, given the stigma associated with being a "real man" who should not be affected by such treatment. This situation leads to significant psychological impacts. The main objective of this research is to identify public perceptions of catcalling and the effects of the double stigma faced by men as victims of catcalling, as well as to examine how hegemonic masculinity shapes the social construction that influences the recognition of men as victims, since it does not conform to masculine stereotypes in society. The primary aim of this research is to identify public perceptions of catcalling, and the effects of the double stigma faced by men as victims of catcalling, and how hegemonic masculinity shapes social constructs that affect the recognition of men as victims, as it conflicts with masculinity stereotypes in society. Based on a qualitative approach through in-depth interviews with male victims and the public in Banda Aceh, the findings reveal that catcalling frequently occurs in public spaces, and the norm of hegemonic masculinity is responsible for pressuring men to always appear dominant and invulnerable, hindering them from acknowledging or reporting such experiences. Additionally, the social stigma that dictates men must be strong and not appear weak also leads to social isolation. Therefore, this research recommends the importance of education and awareness-raising on gender-based violence, including catcalling against men, at various levels of education, both formal and informal. It also calls for providing safe spaces for male victims to share their experiences and seek support without fear of stigma. Keywords: Catcalling, Gender, Stigma, Hegemonic Masculinity

Citation



    SERVICES DESK