<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="153807">
 <titleInfo>
  <title>TOKSISITAS KLORPIRIFOS TERHADAP DAYA TETAS, PERTUMBUHAN, DAN ABNORMALITAS LARVA IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) PADA LINGKUNGAN SUHU YANG BERBEDA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Badratun Nafis</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas mipa</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>signifikan pada kehidupan akuatik. Namun, kajian mengenai sinergi antara&#13;
peningkatan suhu dan toksisitas klorpirifos terhadap ikan nila (Oreochromis niloticus)&#13;
masih belum diungkap. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi toksisitas klorpirifos&#13;
pada tiga variasi suhu (28°C, 31°C, dan 34°C) dengan dua konsentrasi klorpirifos (0&#13;
μg/L dan 32 μg/L). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap&#13;
(RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan, di mana setiap wadah percobaan diisi 100&#13;
telur ikan nila. Parameter yang diamati meliputi tingkat penetasan, Daily Growth Rate&#13;
(DGR), Specific Growth Rate (SGR), Absolute Growth Rate (AGR), tingkat&#13;
malformasi, dan jenis abnormalitas larva. Tingkat penetasan diukur sejak hari pertama&#13;
penetasan hingga akhir fase larva (hari ke-8), DGR, SGR dan AGR diukur di awal dan&#13;
akhir pemaparan, sementara malformasi di akhir masa pemaparan. Hasil menunjukkan&#13;
tingkat penetasan tertinggi (85,33%) tercapai pada suhu 34°C tanpa klorpirifos,&#13;
sedangkan tingkat penetasan terendah (20%) terjadi pada suhu 28°C dengan&#13;
klorpirifos pada hari ke-2. DGR dan SGR menurun signifikan pada suhu 34°C dengan&#13;
klorpirifos, masing-masing mencapai 0,0003 g/hari dan 3,73%/hari, dibandingkan&#13;
dengan suhu 28°C tanpa klorpirifos (0,0011 g/hari dan 10,78%/hari). AGR tetap stabil&#13;
pada semua suhu, tanpa perbedaan signifikan, baik dengan atau tanpa klorpirifos.&#13;
Tingkat malformasi larva, seperti lordosis dan kyphosis, meningkat seiring dengan&#13;
kenaikan suhu dan paparan klorpirifos, dengan tingkat tertinggi (25%) tercatat pada&#13;
suhu 34°C dengan konsentrasi klorpirifos 32 μg/L. Abnormalitas dominan meliputi&#13;
lordosis diikuti oleh ekor melengkung dan kifosis. Penelitian ini merekomendasikan&#13;
pembatasan penggunaan klorpirifos serta mitigasi dampak perubahan suhu untuk&#13;
mendukung keberlanjutan populasi ikan nila dalam budidaya dan kelestarian&#13;
ekosistem perairan.&#13;
Kata Kunci: klorpirifos, ikan nila, daya tetas, pertumbuhan larva.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>153807</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-04-18 11:09:48</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-04-21 10:32:54</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>