<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="153717">
 <titleInfo>
  <title>WARKOP (WARUNG KOPI) SEBAGAI RUANG PUBLIK DALAM DISKURSUS ISU POLITIK DI KOTA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Anisaturrahmah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas  Ilmu Sosial dan Ilmu Politik</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
Warung kopi di Aceh bukan hanya tempat minum kopi, tetapi juga merupakan ruang sosial yang memfasilitasi interaksi antar warga. Warung kopi telah menjadi bagian integral dari kehidupan sosial di Kota Banda Aceh. Lebih dari sekadar tempat untuk menikmati minuman, warung kopi berfungsi sebagai ruang publik di mana berbagai aktivitas sosial, budaya dan politik berlangsung. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui fungsi warung kopi sebagai ruang publik dalam diskursus isu politik di Kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan teori Ruang Publik oleh Jurgen Habermas dan konsep Thirt Place oleh Ray Oldenburg. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi pada dua Warung Kopi, yaitu MZ Coffe Premium dan ATA Kopi Kota Banda Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Warung Kopi berfungsi sebagai ruang publik yang bebas, di mana individu dari berbagai latar belakang dapat berdiskusi tanpa tekanan dari segi apapun. Diskusi yang terjadi di Warung Kopi memainkan peran yang penting dalam pembentukan opini publik, meningkatkan kesadaran politik masyarakat dan memperkuat partisipasi demokrasi di tingkat lokal. Selain itu, Warung Kopi menjadi sarana strategis bagi politisi untuk berinteraksi langsung dan mendengarkan aspirasi masyarakat serta menggalang dukungan politik. Dengan demikian, Warung Kopi tidak hanya berperan sebagai tempat berkumpul bagi masyarakat tetapi juga sebagai arena penting dalam dinamika politik lokal di Kota Banda Aceh.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Warung Kopi, Ruang Publik, Diskursus Politik, Partisipasi Politik&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>153717</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-04-17 14:28:53</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-04-21 09:04:44</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>