<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="153693">
 <titleInfo>
  <title></title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>HUSNUL KHATIMAH</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas MIPA Statistika</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Ketahanan pangan merupakan isu yang sangat penting baik di tingkat global maupun nasional karena berperan penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Pemerintah Indonesia terus berkomitmen meningkatkan ketahanan pangan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 dan target kedua dari Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2030. Pemerintah mengembangkan sistem penilaian berdasarkan sejumlah indikator untuk mengukur ketahanan pangan di suatu wilayah, yaitu Indeks Ketahanan Pangan (IKP). Berdasarkan peta ketahanan dan kerentanan pangan (Food Security and Vulnerability Atlas – FSVA) tahun 2023 terdapat 81,17% kabupaten/kota di Pulau Sumatra yang merupakan wilayah dengan status ketahanan pangan rendah hingga tinggi. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan karakteristik wilayah yang berhubungan dengan peningkatan ketahanan pangan danfaktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari Badan Pangan Nasional Tahun 2023 untuk kabupaten/kota di Pulau Sumatra.   Data penelitian. terdiri dari 1 variabel dependen yaitu IKP, 8 variabel independen dan 2 variabel geografis. Regresi spasial digunakan untuk melihat pengaruh antara variabel dependen dengan variabel independen dengan adanya efek spasial di sejumlah wilayah. Hasil analisis menunjukkan bahwa Model SARMA merupakan model regresi spasial terbaik dalam memodelkan IKP pada kabupaten/kota di Pulau Sumatra, dikarenakan memiliki nilai AIC terkecil yaitu 349,93 dan R2 tertinggi yaitu 45,40%.  IKP pada kabupaten/kota di Sumatra berkorelasi positif dengan angka harapan hidup. Sementara ketahanan pangan rendah diindikasikan oleh persentase penduduk miskin, persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih, dan rasio jumlah penduduk per tenaga kesehatan terhadap tingkat kepadatan penduduk.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>153693</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-04-17 13:19:05</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-04-17 15:22:58</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>