<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="153691">
 <titleInfo>
  <title>PEMODELAN SPASIAL RISIKO KONFLIK MANUSIA DAN SATWA LIAR DI PROVINSI ACEH DENGAN MAXIMUM ENTROPY</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>NURUL UMMAH</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas mipa</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Konflik antara manusia dan satwa liar di Provinsi Aceh merupakan permasalahan yang kompleks dan mendesak, terutama karena melibatkan spesies terancam punah seperti harimau, gajah, dan orang utan. Perusakan hutan akibat aktivitas manusia menyebabkan satwa liar memasuki permukiman dan lahan pertanian, menimbulkan dampak ekonomi serta sosial bagi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan mitigasi yang efektif, salah satunya melalui pemodelan spasial risiko konflik satwa. Penelitian ini menggunakan metode Maximum Entropy (MaxEnt) untuk menganalisis sebaran konflik, mengidentifikasi faktor lingkungan yang berkontribusi, dan memprediksi area berisiko tinggi di Provinsi Aceh. Data konflik manusia-satwa liar periode 2019–2023 dipadukan dengan variabel lingkungan yang dianggap memengaruhi kejadian konflik. Konflik antara manusia-satwa liar di Aceh paling sering terjadi di Aceh Timur dan Aceh Utara. Perusakan rumah dan kebun warga menjadi tipe konflik yang paling dominan dengan gajah sebagai satwa yang paling sering terlibat. Hasil pemodelan MaxEnt menunjukkan bahwa variabel lingkungan yang berkontribusi terhadap konflik meliputi jenis tutupan lahan, jarak dari jalan, jarak dari kawasan hutan, ketinggian, dan kemiringan lereng, sedangkan jarak dari sungai, kepadatan penduduk, dan curah hujan tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Model prediksi menunjukkan risiko konflik lebih tinggi di perbatasan hutan dengan permukiman, area yang berdekatan dengan jalan, serta daerah dengan ketinggian rendah dan kemiringan landai. Model prediksi risiko konflik manusia dan gajah memperoleh akurasi paling tinggi (AUC=0,836) dengan area berisiko tinggi terjadinya konflik mencapai 625.100 ha. Identifikasi lokasi dengan risiko tinggi ini dapat menjadi dasar prioritas mitigasi untuk mengurangi frekuensi konflik manusia dan satwa liar di Provinsi Aceh, dan kemungkinan pemanfaatannya di wilayah lain.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>153691</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-04-17 13:15:58</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-04-17 15:10:17</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>