NEMATODA PARASIT TUMBUHAN DOMINAN PADA KULTIVAR PISANG KEPOK (MUSA ACUMINATA × BALBISIANA) DI TIGA DESA KECAMATAN PADANG TIJI KABUPATEN PIDIE. | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

NEMATODA PARASIT TUMBUHAN DOMINAN PADA KULTIVAR PISANG KEPOK (MUSA ACUMINATA × BALBISIANA) DI TIGA DESA KECAMATAN PADANG TIJI KABUPATEN PIDIE.


Pengarang

CUT FITRIA - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Tjut Chamzurni - 196011171987102001 - Dosen Pembimbing I
Siti Shofiya Nasution - 199203302022032015 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2005109010037

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman (S1) / PDDIKTI : 54295

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian Proteksi Tanaman., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Di Indonesia tanaman pisang termasuk salah satu komoditas penting, karena buah pisang memiliki kontribusi besar terhadap produksi buah-buahan nasional dan berpotensi untuk diekspor. Produksi pisang di Kabupaten Pidie mengalami penurunan pada tahun 2021 hingga tahun 2023 mengalami penurunan sebesar 46%. Salah satu penyebab penurunan produksi pisang adalah nematoda parasit tumbuhan. Kecamatan Padang Tiji merupakan salah satu daerah Sentral produksi pisang di Aceh, namun akhir-akhir ini hampir semua varietas pisang mengalami serangan penyakit sehingga menyulitkan pengembangan tanaman ini dan menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi petani pisang di daerah. Banyak tanaman pisang yang bergejala serangan nematoda parasit. Oleh karna itu, diperlukan penelitian ini untuk mengetahui jenis genus nematoda parasit yang dominan pada kultivar pisang Kepok di Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie.
Sampel tanaman pisang diambil pada lahan pisang di Desa Tunong Tanjong, Desa Keupula Tanjong dan Desa Tuha Peudaya di Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie. Identifikasi di Laboratorium Ilmu Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan September 2024. Rangkaian pelaksanaan penelitian dimulai dari pengambilan sampel, ektraksi nematoda dan identifikasi morfologi nematoda parasit. Parameter yang diamati yaitu morfologi nematoda parasit, kelimpahan nematoda parasit dan indeks keanekaragaman (H’) nematoda.
Berdasarkan hasil identifikasi penelitian ditemukan empat genus nematoda pada ketiga kebun yaitu genus Pratylenchus, Helicotylenchus, Meloidogyne dan Xiphinema. Kelimpahan nematoda parasit tertinggi dari ketiga lahan dijumpai pada lahan Tunong Tanjong yaitu dengan total rata-rata 33.973,4 ekor/10 g tanah. Dari keempat jenis nematoda tersebut kelimpahan nematoda yang dominan pada lahan Tunong Tanjong adalah genus Pratylenchus, yaitu total rata-rata mencapai 17.476,7 ekor/10 g tanah, dengan nilai persentase mencapai 52%. Kemudian pada lahan Keupula Tanjong kelimpahan nematoda tertinggi dan dominan ditemukan pada genus Pratylenchus yaitu dengan total rata-rata 7.980 ekor/10 g tanah, dengan nilai persentase mencapai 40%. Kelimpahan tertinggi dan dominan pada lahan Tuha Peudaya terdapat pada genus Helicotylenchus dengan total rata-rata 8.120 ekor/10 g tanah dan nilai persentase 47%. Hasil indeks keanekaragaman nematoda yang dijumpai pada ketiga lahan memiliki kategori keanekaragaman sama yaitu sedang, menunjukkan situasi yang memerlukan adanya pengawasan dan pengendalian pada setiap lahan. Hal ini dikarenakan keberadaan nematoda parasit yang dominan akan berkembangbiak dengan mudah.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah nematoda parasit dominan pada lahan Tunong Tanjong dan Keupula Tanjong yaitu genus Pratylenchus, sedangkan pada lahan Tuha Peudaya nematoda parasit dominan yaitu tedapat pada genus Helicotylenchus. Saran dari penelitian ini perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui jenis spesies nematoda dari genus Pratylenchus dan Helicotylenchus pada tanaman pisang.

In Indonesia, banana plants are one of the important commodities, because bananas have a major contribution to national fruit production and have the potential to be exported. Banana production in Pidie Regency has decreased in 2021 to 2023, decreasing by 46%. One of the causes of the decline in banana production is plant parasitic nematodes. Padang Tiji District is one of the central banana production areas in Aceh, but recently almost all banana varieties have been attacked by disease, making it difficult to develop this plant and causing significant losses for banana farmers in the area. Many banana plants show symptoms of parasitic nematode attacks. Therefore, this study is needed to determine the type of parasitic nematode genus that is dominant in Kepok banana cultivars in Padang Tiji District, Pidie Regency. Banana plant samples were taken from banana fields in Tunong Tanjong Village, Keupula Tanjong Village and Tuha Peudaya Village in Padang Tiji District, Pidie Regency. Identification at the Plant Disease Laboratory, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University, Darussalam, Banda Aceh. This research was conducted from June to September 2024. The series of research implementations began with sampling, nematode extraction and identification of parasitic nematode morphology. The parameters observed were parasitic nematode morphology, abundance of parasitic nematodes and diversity index (H’) of nematodes. Based on the results of the research identification, four nematode genera were found in the three gardens, namely the Pratylenchus, Helicotylenchus, Meloidogyne and Xiphinema genera. The highest abundance of parasitic nematodes from the three fields was found in the Tunong Tanjong field, with an average total of 33,973.4 individuals/10 g of soil. Of the four types of nematodes, the dominant abundance of nematodes in the Tunong Tanjong field was the Pratylenchus genus, with an average total of 17,476.7 individuals/10 g of soil, with a percentage value of 52%. Then in the Keupula Tanjong field, the highest and dominant abundance of nematodes was found in the Pratylenchus genus, with an average total of 7,980 individuals/10 g of soil, with a percentage value of 40%. The highest and dominant abundance in the Tuha Peudaya field was in the Helicotylenchus genus with an average total of 8,120 individuals/10 g of soil and a percentage value of 47%. The results of the nematode diversity index found in the three fields have the same diversity category, namely moderate, indicating a situation that requires supervision and control in each field. This is because the presence of dominant parasitic nematodes will reproduce easily. The conclusion of this study is that the dominant parasitic nematodes in Tunong Tanjong and Keupula Tanjong lands are the Pratylenchus genus, while in Tuha Peudaya lands the dominant parasitic nematodes are in the Helicotylenchus genus. Suggestions from this study require further research to determine the types of nematode species from the Pratylenchus and Helicotylenchus genera in banana plants.

Citation



    SERVICES DESK