EKSISTENSI SENI KUDA LUMPING SANGGAR MEKAR SUKMA JAYA DI DESA BANDUNG JAYA KABUPATEN ACEH TAMIANG | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

EKSISTENSI SENI KUDA LUMPING SANGGAR MEKAR SUKMA JAYA DI DESA BANDUNG JAYA KABUPATEN ACEH TAMIANG


Pengarang

Nurul Ramayani - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Tengku Hartati - 197108122006042001 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

1806102030005

Fakultas & Prodi

Fakultas KIP / Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1) / PDDIKTI : 88209

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas KIP Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (S1)., 2025

Bahasa

Indonesia

No Classification

394.3

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Kuda Lumping merupakan kesenian tradisional Indonesia yang diwariskan secara turun-temurun dengan nilai sakral dan spiritual. Di Desa Bandung Jaya, Kabupaten Aceh Tamiang, Sanggar Mekar Sukma Jaya didirikan pada tahun 1980-an oleh masyarakat transmigran Jawa untuk melestarikan seni ini. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi dan penurunan minat generasi muda yang lebih tertarik pada hiburan modern, sanggar ini tetap berkomitmen untuk menjaga keberadaan Kuda Lumping. Rumusan masalah dan tujuan penelitian ini adalah memahami eksistensi serta upaya pelestarian Kuda Lumping di desa tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pelaku seni dan tokoh masyarakat, serta dokumentasi pertunjukan seni Kuda Lumping. Data dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif dari Miles dan Huberman yang mencakup tiga tahapan utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Selanjutnya, kesimpulan ditarik berdasarkan pola-pola yang muncul dari data yang telah dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian ini masih memainkan peran penting dalam acara adat dan hiburan masyarakat setempat, meski eksistensinya kurang dikenal di luar Aceh Tamiang. namun upaya yang dilakukan untuk melestarikannya meliputi pelatihan pada generasi muda, kerja sama dengan pemerintah, dalam bentuk penyesuaian dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai tradisional. Dukungan dari masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan untuk memastikan kelangsungan seni ini sebagai bagian penting dari warisan budaya lokal.

Kata Kunci: Kuda Lumping, Pelestarian Budaya, Sanggar Mekar Sukma Jaya, Aceh Tamiang

Kuda Lumping is a traditional Indonesian art form passed down through generations, carrying sacred and spiritual values. In Bandung Jaya Village, Aceh Tamiang Regency, Sanggar Mekar Sukma Jaya was established in the 1980s by Javanese transmigrant communities to preserve this art. Despite facing challenges such as modernization and declining interest among younger generations, who are more inclined toward modern entertainment, the group remains committed to maintaining the existence of Kuda Lumping. The research problem and objective of this study are to understand the existence and preservation efforts of Kuda Lumping in the village. This research employs a qualitative method with a descriptive approach. Data collection techniques include direct observation, in-depth interviews with artists and community leaders, and documentation of Kuda Lumping performances. Data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive analysis technique, which consists of three main stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The conclusions were drawn based on emerging patterns from the analyzed data. The findings indicate that this traditional art still plays a significant role in cultural ceremonies and local entertainment, although its presence is not widely recognized outside Aceh Tamiang. However, efforts to preserve it include training younger generations, collaborating with the government, and adapting to modernization while maintaining traditional values. Support from both the community and the government is crucial to ensuring the continuity of this art as an essential part of local cultural heritage. Keywords: Kuda Lumping, Cultural Preservation, Sanggar Mekar Sukma Jaya, Aceh Tamiang

Citation



    SERVICES DESK