<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="152131">
 <titleInfo>
  <title>PERBANDINGAN FORMALIN DAN GLISEROL SEBAGAI PENGAWET FESES GAJAH SUMATRA (ELEPHAS MAXIMUS SUMATRANUS) TERHADAP JUMLAH TELUR NEMATODA</title>
 </titleInfo>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Hewan</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Pengawet feses digunakan untuk mengawetkan sampel feses yang akan dilakukan pengujian laboratorium dan direkomendasikan untuk pemeriksaan keberadaan telur cacing dengan tujuan untuk mempertahankan telur dan jumlahnya selama masa penyimpanan. Pengawet feses yang umumnya digunakan yaitu formalin dan gliserol. Salah satu cara untuk melihat efektifitas pengawet feses dengan melihat nilai telur tiap gram tinja (ttgt). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan penggunaan formalin 10% dan gliserol 10% sebagai pengawet feses gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) terhadap jumlah telur nematoda. Pengambilan sampel dilakukan dari 15 gajah sumatra dengan nilai ttgt tertinggi, serta pemeriksaan dan pengamatan di laboratorium untuk menghitung jumlah telur nematoda menggunakan mikroskop. Hasilnya menunjukkan bahwa formalin 10% lebih baik dalam menjaga keberadaan telur nematoda dibandingkan gliserol 10%. Hal ini dibuktikan dengan penurunan jumlah ttgt dari formalin 10% yang lebih sedikit dibandingkan gliserol 10%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa formalin 10% lebih baik dari pada gliserol 10% dalam mengawetkan telur cacing.&#13;
Kata Kunci: Formalin 10%, gliserol 10%, TTGT</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>152131</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-03-25 11:24:02</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-03-25 11:26:59</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>