Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS PERMASALAHAN PENGELOLAAN SAMPAH DI KAWASAN WISATA ULEE LHEUE KOTA BANDA ACEH
Pengarang
MUHAMMAD HAFIZ KURNIAWAN - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Faradilla Fadlia - 198410012014042001 - Dosen Pembimbing I
Aminah - 199211142019032015 - Dosen Pembimbing II
Novita Sari - 199111012019032028 - Penguji
Annisah Putri - 199208232022032009 - Penguji
Nomor Pokok Mahasiswa
1810103010102
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Politik (S1) / PDDIKTI : 67201
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik., 2025
Bahasa
Indonesia
No Classification
363.736 3
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Permasalahan lingkungan hidup sebagian besar menjadi tanggung jawab DLHK3 Banda Aceh dan pihak desa merasa juga telah berperan dalam menjaga kebersihan seperti bekerja sama dengan DLHK3 Kota Banda Aceh dan membayar iuran kepada . Hal tersebut menyebabkan permasalahan sampah di kawasan Pantai Ulee Lheue lambat teratasi, ditambah lagi dengan pedagang dan pengunjung yang tidak membuang sampah pada tempatnya. Masing-masing lembaga tersebut memiliki andil dan tanggung jawabnya masing-masing. Keuchik bertugas untuk membentuk peraturan tentang kebersihan lingkungan di desa, DLHK3 menyediakan tempat sampah atau sarana kebersihan lainnya, sedangkan mengelola dan menjaga ketertiban di lokasi pelabuhan dan tempat wisata setempat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Implementasi Kebijakan menurut David C. Korten. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara, dokumentasi dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam rangka membangun kesadaran masyarakat, DLHK3 berkomitmen untuk melakukan penyuluhan/sosialisasi tentang pengelolaan sampah dan kebersihan kepada berbagai lapisan masyarakat, mulai dari guru dan siswa di sekolah atau turun langsung ke desa-desa dengan bekerja sama dengan aparat terkait. Selain itu, bagian penyuluhan DLHK3 juga mengoperasikan mobil penyuluh (atau lebih dikenal dengan mobil SOS) untuk memantau langsung kondisi masyarakat di lapangan. Pengelolaan sampah ini harus dimaksimalkan dengan bekerja sama antara Dinas, Keuchik, sosialisasi dan penegasan Qanun yang membahas tentang pembuangan sampah sembarangan. Dengan demikian, semua elemen bertanggung jawab atas pengelolaan ini agar ekosistem laut di Tanggul Ulee Lheue tetap lestari.
Kata Kunci: Kerusakan Lingkungan, Kebijakan Publik, Tumpang Tindih, Tanggung Jawab Kerusakan Lingkungan, Green Politics, Kebijakan Publik, Sempadankan Lingkungan, Green Politics, Kebijakan Publ
Environmental problems are mostly the responsibility of the Banda Aceh DLHK3 and the village feels that they have also played a role in maintaining cleanliness, such as working together with the Banda Aceh City DLHK3 and paying dues to the Transportation Agency. This has caused the waste problem in the Ulee Lheue Beach area to be slow to resolve, coupled with traders and visitors who do not dispose of waste in its place. Each of these institutions has its share of roles and responsibilities. The Keuchik is responsible for forming regulations regarding environmental cleanliness in the village, the DLHK3 provides trash bins or other cleaning facilities, while the Transportation Agency manages and maintains order at the port location and local tourist attractions. The theory used in this study is Policy Implementation according to David C. Korten. The research method used is descriptive qualitative with interview, documentation and observation data collection techniques. The results of this study indicate that in order to build public awareness, the DLHK3 is committed to conducting counseling/socialization on waste management and cleanliness to various levels of society, starting from teachers and students at school or going directly to the villages in collaboration with related officials. In addition, the DLHK3 extension section also operates an extension car (or better known as the SOS car) to directly monitor the condition of the community in the field. This waste management should be maximized by working together between the Service, Keuchik, socialization and emphasizing the Qanun that discusses littering. Thus, all elements are responsible for this management so that the marine ecosystem in the Ulee Lheue Embankment remains sustainable Keywords: Environmental Damage, Public Policy, Overlapping, Responsibility
KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT AKTIVITAS DIRNTEMPAT WISATARN(ANALISIS GREEN POLITICS TERHADAP DAERAH WISATA PANTAI ULEERNLHEUE) (MAULA RIVADA R, 2022)
PREFERENSI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN BANK SAMPAH DI KOTA BANDA ACEH (RIFATUL YUNA, 2020)
ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN PARIWISATA PESISIR BERKELANJUTAN DALAM PENDEKATAN ENVIRONMENTAL SOCIAL GOVERNANCE RNDI KOTA BANDA ACEH (SARAH NADYA SAFTAR, 2026)
PERILAKU BUANG SAMPAH SEMBARANGAN DI KOTA BANDA ACEH (STUDI PARA PENGUNJUNG DI PESISIR PANTAI WISATA ULEE LHEUE) (Muliana, 2025)
PERKEMBANGAN PARIWISATA DESA ULEE LHEUE PASCA TSUNAMI 2005-2024 (Rina Oktavia, 2026)