<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="151071">
 <titleInfo>
  <title>KAJIAN EKSPERIMENTAL PENGARUH VARIASI MATERIAL ABSORBER PADA KOLEKTOR SURYA DENGAN LALUAN BELOKAN TAJAM 180°</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>MUHAMMAD ANAS</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Teknik Mesin dan Industri</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Matahari merupakan sumber energi utama yang luar biasa besarnya menyinari permukaan bumi. Saat cuaca cerah, permukaan bumi menerima lebih dari 1000 W/m² energi matahari. Pemanfaatan yang tepat dan biasa sering dilakukan masyarakat Indonesia mengenai energi matahari sendiri biasanya dimanfaatkan dalam pengeringan suatu produk makanan, masih banyak masyarakat di Indonesia menggunakan metode pengeringan konvensional yang memiliki beberapa kelemahan, seperti produk yang dikeringkan bersentuhan langsung dengan udara lingkungan yang kurang bersih, serta memerlukan area yang sangat luas. Pengeringan menggunakan kolektor surya dapat menjadi salah satu solusi pada proses pengeringan dikarenakan telah terbukti mampu meningkatkan temperatur pengeringan. Pada penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh variasi material absorber sebagai penyerap panas pada kolektor surya. Pengujian dilakukan menggunakan variasi absorber pasir besi, pasir besi dan bessi hollow galvanis yang diwarnai hitam, pasir besi dan aluminiun berwarna silver, dan yang terakhir pasir besi dan aluminium yang diwarnai hitam, dengan sudut laluan kolektor yaitu 105o. Hasil dari peneilitian menunjukan bahwa dengan variasi material absorber yang berbeda dan sudut laluan kolektor yang sama menyebabkan perbedaan dalam penyerapan panas pada keempat variasi absorber. Temperatur yang paling optimal terjadi pada pukul 13.00 WIB pada saat matahari mengalami intensitas cahaya paling optimal. Kolektor surya dengan variasi absorber pasir besi dan aluminium yang diwaranai hitam mampu menghasilkan temperatur paling maksimal dibandingkan variasi absorber lainnya, dengan temperatur absorber yaitu 99,1°C dan temperatur udara panas sebesar 95,1°C. Sedangkan untuk temperatur udara keluar absorber sebesar 82,3°C dan temperatur keluar udara panas yaitu 79,6°C.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>SOLAR COLLECTORS</topic>
 </subject>
 <classification>621.472</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>151071</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-03-12 16:36:39</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-03-13 09:41:02</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>