<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="150189">
 <titleInfo>
  <title>PATOLOGI ANATOMI PENYEMBUHAN LUKA SAYAT YANG DIOBATI DENGAN EKSTRAK DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALABURA L.) PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ANNISA RAHMADHEA PUTRI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Hewan</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Luka sayat termasuk luka terbuka yang terjadi akibat rusaknya lapisan dalam suatu jaringan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran patologi anatomi penyembuhan luka sayat yang diobati dengan gel dan krim ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L) pada konsentrasi 5%, 10%, dan 15% pada tikus putih (Rattus norvegicus), serta untuk menentukan formulasi dan konsentrasi yang paling efektif dalam mempercepat penyembuhan luka. Parameter yang diamati mencakup panjang luka, kemerahan, edema, awal terbentuk keropeng, dan lepas keropeng. Sebanyak 21 ekor tikus putih jantan, bobot badan 150-200 gram berumur 7-8 minggu. Luka sayat dilakukan di daerah punggung sepanjang 2 cm. Perawatan luka dilakukan dua kali sehari selama 14 hari yaitu kontrol negatif P0 diberikan NaCl 0,9%, kelompok perlakuan gel P1, P2, dan P3 masing-masing diberikan gel ekstrak daun kersen 5%, 10%, dan 15% dan kelompok P4, P5, dan P6 masing-masing diberikan krim ekstrak daun kersen 5%, 10%, dan 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian krim ekstrak daun kersen dengan konsentrasi 10% dapat mempercepat penyembuhan luka sayat. Berdasarkan gambaran patologi anatomi, pemberian ekstrak daun kersen dalam bentuk sediaan gel dan krim dapat mempercepat penyembuhan luka sayat, dengan sediaan krim ekstrak daun kersen menunjukkan efektivitas terbaik. Krim ekstrak daun kersen konsentrasi 10% secara patologi anatomi terbukti paling baik diantara kelompok sediaan krim.  Sedangkan, pada kelompok sediaan gel, gel ekstrak daun kersen 5% yang paling efektif. Secara keseluruhan, krim ekstrak daun kersen 10% memberikan hasil terbaik dalam penyembuhan luka sayat.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>ANIMAL DISEASES - VETERINARY MEDICINE</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>EXTRACTS (PHARMACEUTICALS) - PHARMACEUTICAL CHEMISTRY</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>INCISIONS (WOUNDS) - MEDICINE</topic>
 </subject>
 <classification>636.089 6</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>150189</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-02-18 15:26:08</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-02-19 10:41:18</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>