<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="149825">
 <titleInfo>
  <title>VARIASI LAMA DAN WADAH FERMENTASI PADA FERMENTASI BIJI KAKAO (THEOBROMA CACAO L)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Muhammad Chairil</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2011</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>RINGKASAN&#13;
Produksi biji kakao Indonesia  terus  meningkat, namun mutu yang  dihasilkan sangat rendah dan beragam, antara lain tidak terfermentasi, tidak cukup kering  biji tidak seragam, cita rasa sangat beragam. Persyaratan mutu  yang diatur pemerintah meliputi karakteristik biji kakao, lakar air, bobot biji, kadar kulit dan kadar lemak. Penelitian ini menggunakan  Rancangan Acak Lengkap dengan 2 faktor  yaitu lama fermentasi dan wadah fermentasi.  Data  hasil pengamatan akan  dianalisa dengan Sidik Ragan  atau  ANOVA (Analysis Of Variance). Jika berpengaruh maka dilanjutkan dengan Uji Duncan 5%.  Hasil penelitian pada semua variasi fermentasi diperoleh  kadar  air biji  setelah fermentasi untuk semua perlakuan berkisar antara 18,02%-20,55% dan kadar air biji kakao setelah pengeringan 7,22% - 8,44%. Hasil penelitin diperoleh  pH setelah fermentasi untuk semua perlakuan berkisar  antara  4,35-5,49 dan pH  setelah pengeringan 5,01-5,77. lemak setelah fermentasi untulk semua perlakuan berkisat  antara 1,16%1,55%  dan lemak setelah pengeringan 2,05%-298%. Asam lemak bebas setelah fermentasi untuk semua perla kuan berkisar  antara 0,31%-34,04% dan kadar asam lemak bebas setelah pengeringan 2,05% ­ 298%. Nilai kecerahan tertinggi tendapat pada 8 hari fermentasi dengan  menggunakan wadah keranjang bambu. Analisis deskrifif kuantitatif terhadap  warna tekstur dan aroma terdapat pada perlakuan  6  hari fermentasi dan wadah  kotak layu yang dipilih oleh panelis. Secara keseluruhan panelis memilih 8 hari  fermentasi dan wadah kotak gabus &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>COCOA</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>FERMENTATION - FOOD TECHNOLOGY</topic>
 </subject>
 <classification>664.024</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>149825</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-02-10 16:18:57</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-02-20 11:13:37</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>