<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="149807">
 <titleInfo>
  <title>PENAMBAHAN LIMBAH AMPAS TAHU SEBAGAI BAHAN PENSUBSTITUSI DEDAK DALAM PEMBUATAN BOKASI</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Farhan Mirazi Hidayat</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2011</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>RINGKASAN &#13;
Belakangan ini  petani di Aceh sudah mulai menggunakan pupuk organik yang dikenal dengan nama bolasi dalam usaha taninya. Namun salah satu  permasalahan dalam pembuatan bokasi adalah komponen dedak sebagai bahan  bakunya yang memiliki harga yang relatif lebih tinggi dari  harga bahan baku lainnya, yaitu sekitar Rp 2000/kg. Oleh karena ini, dalam penelitian ini dicoba dicari bahan pensubstitusi komponen dedak ataupun paling kurang diupayakan agar proporsi dedak yang digunakan dalam pembuatan bokasi dapat dikurangi,  sehingga biaya produksi bokasi bisa ditekan. Salah satu alternatif yang digunakan  adalah dengan memanfaatkan limbah ampas tahu yang selama  sering dibuang secara  ini  percuma dan bahkan dapat mencemari lingkungan.  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola  fakctorial yang terdiri atas 2 faktor. Faktor I adalah rasio ampas tahu dan dedak (A) yang terdiri  dari  Lima taraf, yaitu: A1= (0:1),A2=(1:2), A3=(1:1,A4=(2: 1) A5= (1:0). Faktor II adalah konsentrasi MOL (K), yang terdiri dari tiga taraf,  yaitu K1= 0,1%,K2=0,3%, dan K3= 0,5%. Setiap perlakuan diulang sebanyak  dua kali sehingga terdapat 30  satuan  percobaan.  Analisis  yang dilakukan terhadap bokasi yang dihasilkan meliputi total  mikroorganisme (TCC), kadar air, pH, temperatur, unsur C, unsur N, rasio C/N,  organoleptik (tekstur, aroma dan warna), dan uji  tanaman.  Rasio ampas tahu dan dedak yang digunakan pada pembuatan bokasi bengaruh sangat nyata (P</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>ORGANIC FERTILIZERS</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>WASTE TECHNOLOGY</topic>
 </subject>
 <classification>631.86</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>149807</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-02-10 15:53:20</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-02-10 16:19:17</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>