<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="149783">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH WADAH FERMENTASI DAN KETEBALAN TUMPUKAN BIJI PADA PROSES FERMENTASI BIJI KAKAO (THEOBROMA CACAO L)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Novandi Zuhri</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued></dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>RINGKASAN&#13;
Pada awal sejarahnya fermentsi hanya digunakan untuk membebaskan  biji kako dari pulp, mencegah pertumbuhan, memperbaiki kenampakan,  dan  mempermudah pengolahan berikutnya. Namun, pada perkembagan selanjutnya fermentasi menjadi proses yang mutlak harus dilakukan, Tujuannya agar diperoleh biji kako kering yang bermutu baik dan memiliki calon aroma serta cita rasa khas cokelat  Metode fermentasi bervariasi dari suatu negara dengan negara lainnya  dari petani dengan petani lainnya, tetapi pada dasarnya ada dua metode utama  yaitu fermentasi dalam  wadah dan fermentasi dalam tumpukan. Selain dua metode  tersebut, terdapat  metode  fermentsi dalam keranjang yang kerap juga diterapkan  oleh petani kakao. Perbedaan dari masing-masing metode tersebut sebenarya  hanya terletak pada tempat (wadah) yang digunakan saja. Ketebalan tumpukan diduga berpengaruh terhadap karakteristik biji yang dihasillan slama fermentasi. Wadah fermentasi merupakan media yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menentukn tingkat ketebalan yang maksimum dalam hal melakukan proses  fermentasi. Untuk itu perlu dilakukan penyesuaian tingkat ketebalan tumpukan biji dengan ukuran wadah fermentasi yang digunakan, Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas mutu biji kakao hasil fermentsi. Namun, secara khusus penelitian ini bertujuan untuk melihat secara  nyata pengaruh beberape wadah fermentasi  dan  tingkat ketebalan tumpukan biji  pada proses fermentasi terhadap kualitas biji kakao yang dihasilkan.  Buah Kalao yang digunakan pada penelitian ini adalah buah kakao dengan  ciri-ciri buahnya berbentuk gerigi, ujungnya bulat, berdinding buah tebal dan  berwarna  kuning jika cukup matang yang baru dipanen oleh petani, yang diperoleh dari Kecamatan Padang Tiji. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola factorial 3 x 2 yang terdiri atas dua (2) faktor. Faktor pertara adalah wadah  fermentasi (W) yang terdiri dari tiga (3) taraf yaitu: W1 = kotak kayu, W2=  ember, W3, keranjang rotan. Faktor kedua adalah ketebalan tumpukan biji (K)  yang terdiri dari dua (2) taraf, yaitu: K1 =30 cm. K2 = 40 cm. Penelitian ini  menggunakan (dua) kali ulangan, sehingga diperoleh I2 (dua belas) satuan  percobaan.  Parameter  yang diamati  dianalisis pada biji kakao meliputi Perubahan  suhu, pH, dan kadar gula selama proses fermentasi dengan interval waktu setiap l2 jam sekali. Analisis biji kakao kering meliputi kadar air, ladar lerak, pH biji, uji pembelahan biji dan asam lemak bebas. Hasil penelitin ini menunjukkan bahwa selama fermentasi terjadi kenail suhu (hari kesatu, kedua dan ketiga) dan penurunan suhu (pada  hari  keempat dan kelima). Demikian juga pada pH tumpulan biji selama fermentasi dimana penurunan pH menjadi asam terjadi pada hari ketiga dan ke empat  dan  fermentasi  hari  pada  kelima pH kembali meningkat. Hasil analisis pada kada gula menunjukkan dimana  pertama fermentasi (hari I) kemudian turun menjadi 3,4 % Setelah hari ke 2 jumlah gula sudah  kadar  gula tinggi pada hari  dibawah 2 % dan turun menjadi 0,3 % pada hari ke 5.  Hasil analisis peda biji kakao kering.  Kadar  air 6,16%-7,49%.  Kadar  lemak 47,02%-50,19%. pH biji 5,10-5.8. Hasil analisis uji pembelahan biji  menunjukkan bahwa sebagian biji didapati slaty, angu sebagian dan ungu penuh.  Biji slaty banyak terdapat pada biji dalam wadah kotak kayu dan keranjang rotan (WIKI = 5,5 dan W3KI = 6,5), biji ungu penuh banyak terdapat pada ketebalan tumpukan 30 cm (W2KI =7 dan W3KI  6,5), biji fermentasi penuh banyak  terdapat pada wadah  kotak kayu dengan ketebalan 40 cm (WIK2 =69). Asam lemak bebas pada biji kalo (dihitung sebagai oleat) berkisar antara 1,69% ­ 1,97%.   &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>COCOA</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>FERMENTATION - FOOD TECHNOLOGY</topic>
 </subject>
 <classification>664.024</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>149783</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-02-10 12:25:03</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-02-10 15:17:25</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>