<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="149141">
 <titleInfo>
  <title>PEMANFAATAN IOT MULTITASKING DALAM MENGHITUNG DURASI PENYINARAN MATAHARI HARIAN</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Irsyad Priyatna</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik Elektro dan Komputer</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Abstrak-Matahari merupakan sumber energi utama yang mepengaruhi berbagai aspek kehidupan di bumi, seperti pertumbuhan tanaman, fotosintesis, pengaturan iklim, dan optimalisasi energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengukur durasi penyinaran matahari secara otomatis dan efisien. Sistem ini menggunakan tiga modul Wemos D1 Mini dengan sensor LDR untuk mengukur intensitas cahaya, yang kemudian dikonversi ke satuan lux. Data dikirim melalui protokol ESP-NOW ke ESP32, yang berfungsi sebagai pengolahan data. Dengan fuzzy logic mamdani, intensitas cahaya diklasifikasikan ke dalam tiga kategori: rendah, sedang, dan tinggi. Hasil pengukuran direkam secara real-time dalam Google Sheets untuk mempermudah pemantauan. Metode yang digunakan adalah prototyping, dengan pengembangan sistem secara bertahap untuk mencapai hasil optimal. Pengujian dilakukan selama beberapa hari dengan membandingkan hasil sistem terhadap data dari BMKG dan lux meter. Hasil menunjukkan bahwa sistem mampu mengukur durasi penyinaran dengan galat relatif 1,3–33,06% dibandingkan BMKG dan 0,92–27,25% dibandingkan lux meter. Akurasi lebih tinggi dicapai pada intensitas cahaya tinggi dibandingkan rendah. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teknologi IoT untuk mendukung sektor pertanian dan energi terbarukan dengan data yang lebih akurat dan efisien.&#13;
Kata kunci: Internet of Things (IoT), penyinaran matahari, fuzzy logic mamdani, intensitas cahaya.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>INTERNET PROGRAMMING</topic>
 </subject>
 <classification>006.76</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>149141</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-24 09:44:09</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-01-30 15:50:01</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>