<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="148787">
 <titleInfo>
  <title>KARAKTERISTIK PENGERINGAN KERUPUK TEMPE MENGGUNAKAN PENGERING SURYA HIBRID DI DESA NUSA, KECAMATAN LHOKNGA, KABUPATEN ACEH BESAR</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Rizky Andhika Putri</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2012</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>RINGKASAN&#13;
  Kerupuk merupakan sajian  yang hampir selalu hadir dalmn hidangan  mayarakat Indonesia sehari-hari baik pada acara perayaan kecil maupun besar Makanan ini dibuat dari bahan dasar berbagai macam bahan mulai dari tepung  terutama terigu dan tapioka hingga kulit sapi, bumbu-burnbu, bahan tambahan  peryedap dan bahan pewarna. Bahan dasar dan bahan tambahan tersebut di atas diaduk rata dan dibuat adonan, kemudian dimasak, selanjutnya adonan dibentuk  menurut selera pembuat, dikeringkan di bawah panas matahari dan  lemari panas,  dan slap untuk dipasarkan.. Komoditi yang sudah kering kemudian digoreng untuk  dikonsumsi.&#13;
  Permasalahan dalam pembuatan kerupuk adalah pengeringan. Kondisi  cuaca yang tidak menentu berpengaruh terhadap proses produksi dan pemasaran.  Proses  pengeringan menjadi semakin lama bila cuaca mendung Serta bila hujan pemasaranpun jadi terhambat lantaran harus menunggu hujan reda Dengan  kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih maka usaha  untuk melestarikan kerupuk sebagai makanm tradisional semakin diperlukan&#13;
 Metode penelitian diawali dengan pembutan kerupuk tempe. Penjemuran  dilakukan dengn menggunakan alat pengering surya hibrid. Pada  saat  proses  pengeringan terjadi, kemudian dilakukan analisis seperti kecepatan udara,  distribusi temperatur, distribusi kelembaban relatif, radiasi surya, kapasitas kerja  alat, pengukuran laju penurunan  kadar air terhadap penurunan berat. Kemudina  dilakukan analisis fisik seperti uji organolepoil dan perhitungan Hasil penelitian menunjukkan behwa Hasil pengukuran lecepatan udara  pada Percoban pertama tanpa bahan, kecepatan utama pada ruang pengering lebih  rendah dibandingkan dengan keceputan udara pada lingkungan. Kecepatan udara  tertinggi di ruang pengering sebesa 0,5 ms pada pukul; 14.00 WIB dan terendah  0,2 m/s. Kecepatan udara tertinggi dilingkungan adalah I,1 ms pada pukul 14.00  m/s.  WIB dan terendah 0,4  Pada percobaan ke 2 dengan bahna, kecepatan udara  dilingkungan tertinggi 2.2 m/s pada pukul 13.30 WIB  daa  terendah 0,4 m/s pad  pukul 12.00 WIB. Pada ruang pengering suhu tertinggi adalah 0,5 m/s pada pukul  09.30 WIB daa suhu terendah adalah 6  m/s.&#13;
  pada penelitian ketiga, kecepatan  udara dilingkungan tertinggi 1,1 m/s dan terendah 0,4 m/s pada pukul 12.30 W1B  Pada ruang pengering suhu tertinggi adalah 0,4 m/s dan suhu terendah adalah 0.2  m/s  . Suhu rata-  rata terendah terdapat pada ruang 6 yaitu 35C pada pukul 12.00  WIB  Nilai pengukuran kelembaban relatif pada percobaan pertama tanpa  menggunakan bahan adalah 54,2%. 79.84% untuk ventilasi A, 40,6% -79,8% untuk ventilasi . Kelembaban relatif untul lingk umngan adalah 52.6% -56-%.  kelembaban relatif percobaan ke 2, pada ventilasi A temperatur  berkisar antara  4l%.- 56,%. Ventilasi I memiliki temperatur berkisar antar 53% -86%. Kelembaban relatif (RH) untuk lingkungan sempat stabil yaitu 48,5% pada pukul   10.30-14.00  WIB dan kelembatan relatif (RH) tertinggi adalah 93,1%  kelembaban relatif percobaan ke 3 pada ventilasi A dan ventilasi I  dan  berkisar antar 62,6% - 93,6%. Ventilasi B memilki temperatur berkisar antaar 65,9% -7,7%. Kelembaban relatif (RH) untuk lingkungan yaitu 71,1%-86% Radiasi matahari berfluktuasi. Radiasi tertinggi terdapat pada percobean  ke-I, yaitu tahap tanpa bahan sebesar 440 W/m pukul 10.00 WIB dan terendah  adaah 60 W/m pada pukul 16.00 WIB. Radiasi matahari tertinggi pada  percobaan ke-2 adalah 120 W/m pukul 13,30 WIB dan terendah adalah 110  wen pukul 16,00 W1B Radiasi tertinggi pada percobaan ke 3 adalah 350 W/m  w/m  pukul 10,10 WIB dan terendah  adalah 70  pukul 11,30-12.00 W1B  kapasitas alat pemnering surya hibrid adalah 6.8 kg /jam, dengan temperatur tertinggi dalam alat pengering surya hibrid yaitu  76 C dan terendah  33C. Pada percobaan kedua dengan bahan, kadar  air  tertinggi adalah 56,2%  sedangkan kadar air  yang terendah yaitu 20.%. Pada percobaan ketiga dengan  bahan, lkdar air teringgi terdapat pada rak 6 yaitu sebesar 54,1%. Sedangkan  kadar air yang terendah yaitu 19,1%.  Berdasarkan hasil ujii yang dilakukan, responden lebih menyukai  pengeringan yang dilakulan dengan menggunakan pengering matahani daripada  memakai alat pengering surya hibrid. Responden menjelakan bahwa pengeringan dengan mengunakan matahari languang lebih efisien  dan murah. kerupuk yang dihasillan lebih cerah dan  bersih dibandingkan dengan menggunakan alat  Hasil an ekonomi biaya tetap yang dikeluarkan untuk alat pengering surya hybrid berjumlah Rp. 3.000.000, biaya tidkl tetap yang  dikeluark.n scema pengeringan berjumah Rp. 3202,38/jam dan Biaya pokok  pengeringan yang diperoleh sebesar Rp. 654.7/kg dengan kapasitas pengeringan 6.8 kg/jam&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>DRYING PROCESSES</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>FLOUR - COMMERCIAL PROCESSING</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>SOYBEAN FLOUR</topic>
 </subject>
 <classification>664.726</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>148787</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-21 16:34:46</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-01-22 11:22:11</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>