IDENTIFIKASI MUTASI GEN RPOB PADA MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS DAN EVALUASI PROGRAM PENCEGAHAN KASUS RESISTENSI TERHADAP RIFAMPISIN PASCA PANDEMI COVID-19 DI PROVINSI ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    DISSERTATION

IDENTIFIKASI MUTASI GEN RPOB PADA MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS DAN EVALUASI PROGRAM PENCEGAHAN KASUS RESISTENSI TERHADAP RIFAMPISIN PASCA PANDEMI COVID-19 DI PROVINSI ACEH


Pengarang

Ichsan - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Maimun Syukri - 196112251990021001 - Dosen Pembimbing I
M. Yani - 196101271988111001 - Dosen Pembimbing I
Mudatsir - 196703251992031002 - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2107301010007

Fakultas & Prodi

Fakultas Kedokteran / Doktor Ilmu Kedokteran / PDDIKTI : 11001

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Kedokteran Prodi Doktor Ilmu Kedokteran., 2025

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Tuberkulosis (TB) dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian akibat infeksi di dunia. Di Indonesia, diperkirakan terdapat 969.000 kasus TB per tahun, dengan 724.309 kasus yang terlaporkan pada tahun 2022 (75% dari estimasi). Di Provinsi Aceh, insiden TB tercatat mencapai 23.374 kasus per tahun, menunjukkan beban penyakit yang signifikan. Resistensi obat, khususnya terhadap rifampisin (TB RR), menjadi ancaman serius dalam pengendalian TB, dengan mutasi pada gen rpoB yang menyebabkan lebih dari 98% kasus TB RR. Pandemi COVID-19 telah memperburuk situasi ini, dengan dampak signifikan terhadap prevalensi TB RR. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi prevalensi TB RR sebelum dan setelah pandemi COVID-19, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi peningkatannya, serta menilai efektivitas program penanggulangan TB di Provinsi Aceh. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed method dengan desain sequential explanatory. Tahap kuantitatif meliputi pemeriksaan RT-qPCR untuk mendeteksi TB RR, dan survey pada pasien TB, yang dilanjutkan dengan penelitian kualitatif berupa studi kasus intrinsik melalui in-dept interview dan FGD untuk menggali faktor-faktor yang berkontribusi pada peningkatan prevalensi dan evaluasi program penanggulangan TB RR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi TB RR meningkat signifikan, dari 12,35% sebelum pandemi menjadi 21,39% setelah pandemi, dengan peningkatan sebesar 9,04% dimana ekspresi gen rpoB terdeteksi pada 71 sampel. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi meliputi ketidakpatuhan terhadap pengobatan akibat terbatasnya akses ke obat, ketakutan terhadap kunjungan fasilitas kesehatan, penurunan pendapatan, dan status gizi yang memburuk selama pandemi, serta gangguan pada program penanggulangan TB, seperti penurunan aktivitas case finding dan terbatasnya anggaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pandemi COVID-19 secara signifikan meningkatkan prevalensi TB RR melalui gangguan akses terhadap layanan kesehatan, penurunan kondisi ekonomi dan gizi, serta ketakutan masyarakat untuk datang ke fasilitas kesehatan. Konsep Segitiga Epidemiologi digunakan untuk menggambarkan interaksi antara host, agen (M. tuberculosis), dan lingkungan yang berperan dalam peningkatan kasus TB RR pasca-pandemi. Oleh karena itu, pendekatan mitigasi yang holistik, termasuk penguatan sistem pengobatan berbasis komunitas, peningkatan akses fasilitas kesehatan, serta ketersediaan alat deteksi dan pengobatan yang memadai, sangat diperlukan untuk mencegah lonjakan kasus TB RR.

Tuberculosis (TB) remains one of the leading causes of infectious disease-related mortality globally. In Indonesia, an estimated 969,000 TB cases occur annually, with 724,309 cases reported in 2022, representing 75% of the estimated incidence. In Aceh Province, the incidence is recorded at 23,374 cases per year, highlighting the significant burden of the disease. Drug-resistant TB, particularly rifampicin-resistant TB (TB RR), is a major challenge for TB control, with mutations in the rpoB gene responsible for over 98% of TB RR cases. The COVID-19 pandemic has exacerbated this situation, significantly impacting the prevalence of TB RR. This study aims to assess the prevalence of TB RR before and after the pandemic, identify factors influencing its increase, and evaluate the effectiveness of TB control programs in Aceh Province. A mixed-methods approach with a sequential explanatory design was used. The quantitative phase involved RT-qPCR testing to detect TB RR followed by a patient survey. In contrast, the qualitative phase utilized an intrinsic case study to explore factors contributing to the increasing prevalence thru in-dept intervews and FGD. Results indicated a significant rise in TB RR prevalence, from 12.35% before the pandemic to 21.39% after the pandemic, representing an increase of 9.04%, where rpoB gene expression was detected in 71 samples. Contributing factors included treatment non-adherence due to limited access to medications, fear of visiting healthcare facilities, decreased income, and deteriorating nutritional status during the pandemic. Additionally, disruptions to TB control programs, including reduced case finding and budget limitations, played a role in the increased prevalence. The study concludes that the COVID-19 pandemic significantly contributed to the rise in TB RR prevalence through disruptions in healthcare access, worsening economic and nutritional conditions, and heightened community fear of healthcare settings. The Epidemiologic Triangle concept illustrates the interaction between the host, the agent (M. tuberculosis), and the environment in the post-pandemic increase in TB RR cases. A holistic mitigation strategy, including strengthening community-based treatment, improving access to healthcare, and ensuring the availability of adequate diagnostic tools and treatments, is essential to prevent further increases in TB RR cases.

Citation



    SERVICES DESK