<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="147823">
 <titleInfo>
  <title>KOMBINASI TERAPI CEFTRIAXONE DENGAN EKSTRAK DAUN BIDURI (CALOTROPIS GIGANTEA) DALAM MENGATASI RESISTENSI ANTIBIOTIK DARI BAKTERI KLABSIELLA PNEUMONIA YANG DIISOLASI PADA KASUS VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA.</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Teuku Zulfikar</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pasca Sarjana / Prodi Doktor Matematika dan Aplikasi Sains (S3)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Ventilator-Associated Pneumonia (VAP) merupakan jenis pneumonia nosokomial yang sering terjadi di Intensive Care Unit (ICU), terutama pada pasien yang menggunakan ventilasi mekanis lebih dari 48 jam. Patogen utama terkait VAP termasuk Klebsiella pneumoniae (K. pneumoniae), Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus aureus (S. aureus). World Health Organization (WHO) menetapkan beberapa patogen resisten, seperti K. pneumoniae dan Acinetobacter baumannii, sebagai prioritas untuk pengembangan antibiotik baru. Peningkatan resistensi antibiotik, terutama terhadap cephalosporin generasi ketiga dan carbapenem, menuntut alternatif terapi, seperti penggunaan obat tradisional, seperti Calotropis gigantea (biduri). Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa ekstrak daun biduri menunjukkan aktivitas antibakteri dan antiinflamasi, efektif melawan beberapa patogen seperti P. aeruginosa dan S. aureus. Penelitian ini berfokus pada evaluasi kombinasi ekstrak daun C. gigantea dan ceftriaxone (antibiotik cephalosporin generasi ketiga) terhadap infeksi K. pneumoniae yang diisolasi dari pasien VAP. Uji antibakteri dilakukan secara in vitro dan in vivo menggunakan tikus yang diinduksi menjadi pneumonia. Hasil skrining fitokimia menjelaskan bahwa ekstrak etanol daun biduri memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang melimpah dan menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi, yaitu nilai IC50 sebesar 3,3 ppm. Identifikasi senyawa bioaktif menggunakan Gas Chromaography–Mass Spectroscopy (GC-MS) dari ekstrak daun biduri menunjukkan terdapat dua senyawa dominan, yaitu α-amyrin dan lup-20(29)-en-3-ol, dan senyawa ini termasuk dalam golongan senyawa turunan triterpenoid. Analisis docking molekuler menunjukkan bahwa α-amyrin (-9,6 Kkal/mol), β-amyrin (-9,6 Kkal/mol), dan epilupeol (-9,2 Kkal/mol) pada daun biduri memiliki nilai energi bebas ikat yang lebih tinggi dibandingkan dengan cefixime (-8,7 Kkal/mol). Selain itu, pengujian antibakteri yang dilakukan menggunakan metode difusi cakram Kirby Bauer menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak dengan antibiotik menghasilkan zona hambat yang lebih besar daripada penggunaan ekstrak etanol sendiri. Hasil ini menunjukkan potensi ekstrak etanol daun biduri sebagai agen antimikroba yang potensial dalam menghambat pertumbuhan K. pneumonia. Namun demikian, kombinasi antara ekstrak dan antibiotik tidak menunjukkan efek yang lebih baik dibandingkan hasil pengujian aktivitas antibiotik yang digunakan. Hal ini diduga disebabkan oleh perbedaan mekanisme aksi antara senyawa-senyawa aktif dalam ekstrak dengan antibiotik yang digunakan. Berdasarkan pengujian in vivo menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak daun biduri dengan antibiotik memberikan efek sinergis, yang ditandai dengan penurunan jumlah leukosit, peningkatan berat badan, stabilisasi suhu tubuh, dan perbaikan struktur histologis jaringan paru-paru. Efek terapeutik yang signifikan ini mengindikasikan bahwa ekstrak daun biduri memiliki potensi sebagai agen pendukung dalam terapi infeksi bakteri. Disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak daun C. gigantea dengan antibiotik menunjukkan potensi yang menjanjikan dalam pengobatan infeksi K. pneumoniae.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>147823</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-16 15:43:22</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-01-16 15:46:54</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>