<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="147759">
 <titleInfo>
  <title>KARAKTERISTIK BIOFOAM CUP AMPAS TEBU DENGAN VARIASI SUHU PENGERINGAN DAN JENIS BAHAN CETAKAN</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Putri Balqies</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian	Teknologi Hasil Pertanian (S1)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini memodifikasi pembuatan biofoam cup dari ampas tebu dengan mengganti Rhizopus oligosporus menjadi tapioka sebagai bahan pengikat. Sehingga diperlukannya suhu pengeringan yang tepat agar membentuk karakteristik yang baik. Selain itu penggunaan bahan cetakan polypropylene akan menimbulkan sampah plastik, sehingga pada penelitian ini diganti dengan beberapa jenis bahan cetakan lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan suhu yang berbeda dan jenis bahan cetakan yang berbeda terhadap karakteristik biofoam cup. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial yang terdiri dari 2 tahap. Tahap pertama adalah penggunaan suhu pengeringan yang berbeda, terdiri dari suhu 80oC (T1), 100oC (T2) dan 120oC. Tahap kedua adalah penggunaan jenis bahan cetakan yang berbeda, terdiri dari aluminium foil (C1), besi baja (C2) dan polylactid acid (C3). Analisis yang dilakukan pada biofoam cup yang dihasilkan adalah analisis morfologi, analisis densitas, analisis porositas dan analisis ketahanan terhadap air. Sampel terbaik dilakukan analisis lanjutan berupa kuat tekan dan daya urai. Perlakuan terbaik untuk pengeringan biofoam cup yang dilakukan pada tahap pertama adalah penggunaan suhu 80ºC, memiliki nilai densitas 0,23 g/cm3, porositas 26,8% dan ketahanan terhadap air 98,02%. Perlakuan terbaik pada penelitian tahap kedua adalah penggunaan cetakan berbahan besi baja, dengan nilai densitas 0,19 g/cm3, porositas 21,44%, dan ketahanan terhadap air 98,66%. Sampel terbaik diperoleh dari suhu 80ºC dan penggunaan jenis bahan cetakan besi baja memiliki nilai kuat tekan 7,67±2,13 MPa lebih kuat dibandingkan dengan sampel komersil 0,18±0,08 Mpa, sedangkan nilai daya urai mencapai 11,66±9,26% lebih lama dibandingkan dengan sampel komersil 90,33±3,84%.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>147759</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-16 13:19:12</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-01-16 14:38:29</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>