<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="147575">
 <titleInfo>
  <title>ISOLASI DAN IDENTIFIKASI CANDIDA NON-ALBICANS PADA KUCING DOMESTIK (FELIS CATUS DOMESTICUS) PENDERITA EAR MITES DI KECAMATAN KUTA ALAM</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Mumtaza Firsta Afdelia</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Hewan</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
Kucing domestik (Felis catus domesticus) yang menderita ear mites berisiko mengalami infeksi sekunder oleh jamur Candida non-albicans. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi Candida non-albicans pada kucing domestik yang menderita ear mites di Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Infestasi ear mites sering kali memicu infeksi sekunder, termasuk infeksi jamur oportunistik seperti Candida non-albicans. Sebanyak 22 sampel swab telinga dari kucing yang menunjukkan gejala klinis ear mites dikultur menggunakan media CHROMAgar Candida dan diidentifikasi secara mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan 17 sampel positif Candida non-albicans dengan prevalensi spesies Candida auris (54%), Candida tropicalis (36%), Candida krusei (22%), dan Candida glabrata (2%). Candida non-albicans ditemukan menjadi penyebab infeksi sekunder yang signifikan, terutama pada kucing dengan manajemen pemeliharaan yang buruk. Infeksi ini berpotensi menjadi zoonosis karena interaksi antara manusia dan kucing, yang menekankan pentingnya pemantauan kesehatan hewan peliharaan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan tingginya prevalensi Candida non-albicans pada kucing penderita ear mites, dengan risiko yang signifikan terhadap kesehatan hewan dan manusia. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami faktor risiko dan pengembangan strategi pengendalian infeksi jamur pada kucing.&#13;
Kata Kunci: Candida non-albicans, ear mites, kucing domestik, zoonosis, CHROMAgar Candida.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>147575</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-15 16:43:13</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-01-16 10:23:11</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>