<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="147535">
 <titleInfo>
  <title>ANALISIS DAMPAK KENAIKAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) TERHADAP INFLASI DI INDONESIA DENGAN REGRESSION DISCONTINUITY IN TIME</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Aska Salsabila</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas MIPA Statistika</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 10% menjadi 11% yang diberlakukan pada April 2022 telah menjadi kebijakan fiskal yang signifikan dengan dampak cukup besar terhadap stabilitas inflasi di Indonesia. Inflasi merupakan indikator penting yang dapat mencerminkan keseimbangan ekonomi, terutama dalam hal daya beli masyarakat dan stabilitas harga barang dan jasa. Kebijakan ini memunculkan tantangan untuk memastikan bahwa lonjakan inflasi yang disebabkan oleh kenaikan PPN dapat dikelola dengan baik agar tidak berdampak negatif pada perekonomian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak kenaikan PPN terhadap inflasi menggunakan metode Regression Discontinuity in Time (RDiT). Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup variabel-variabel ekonomi bulanan dari April 2020 hingga Juli 2024. Selain variabel utama inflasi, penelitian ini juga melibatkan variabel-variabel kontrol seperti uang beredar sempit dan luas, suku bunga, nilai tukar Rupiah terhadap USD, serta total ekspor dan impor untuk memastikan analisis yang kompleks. Pemilihan model terbaik dilakukan dengan mempertimbangkan kriteria AIC dan BIC, dan model linier different slope terpilih sebagai model terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan PPN sebesar 11% memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap inflasi, dengan peningkatan inflasi sebesar 2,897% pada awal kebijakan diberlakukan. Namun, dampaknya cenderung berkurang seiring waktu, yang menunjukkan kemampuan pasar untuk beradaptasi terhadap perubahan kebijakan melalui mekanisme stabilisasi harga yang dilakukan pemerintah. Model terbaik memiliki nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 95,19%, menunjukkan kemampuan model yang sangat baik dalam menjelaskan variasi inflasi yang dipengaruhi oleh kebijakan dan faktor waktu. Dampak kebijakan ini mengindikasikan perlunya strategi implementasi kebijakan yang bertahap dan penguatan kebijakan pendukung untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan untuk mengkaji dampak kenaikan PPN dari 11% menjadi 12% yang barusan diberlakukan pemerintah pada 1 Januari 2025.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>147535</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-15 15:22:06</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-01-15 15:27:41</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>