<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="147173">
 <titleInfo>
  <title>LEGAL PROTECTION OF CHILDREN AFFECTED BY INTERNATIONAL CHILD ABDUCTION:</title>
  <subTitle>A COMPARATIVE ANALYSIS BETWEEN INDONESIA AND SINGAPORE</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>CUT SARAH</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Hukum</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>International child abduction tetap menjadi masalah yang persisten di Indonesia dan Singapura. Sementara Singapura telah memberlakukan peraturan khusus untuk menangani masalah ini melalui  peraturan khusus, yaitu International Child Abduction Act 2010 (ICAA), Indonesia masih belum memiliki peraturan yang secara khusus mengatur international child abduction. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerangka hukum yang mengatur perlindungan anak yang terkena dampak international child abduction, dengan fokus pada instrumen hukum internasional yang relevan, serta membandingkan perlindungan hukum yang ada di Singapura dan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan menganalisis bahan hukum primer, seperti konvensi internasional dan hukum domestik, serta sumber-sumber sekunder. Pendekatan komparatif digunakan untuk menyoroti perbedaan antara kerangka hukum Indonesia dan Singapura dalam menangani international child abduction. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Hague Convention on the Civil Aspects of International Child Abduction 1980 (Konvensi Den Haag) dan Convention on the Rights of the Child (CRC) menawarkan kerangka hukum internasional yang tepat. Adapun Singapura melalui ICAA secara efektif menerapkan standar internasional. Sebaliknya, Indonesia dengan hukum seperti UU No. 35 Tahun 2014 dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak memiliki mekanisme penyelesaian lintas negara dan sering memperlakukan kasus-kasus international child abduction tersebut sebagai sengketa hak asuh. Negara-negara perlu mengenali dan memahami instrumen internasional yang ada seperti Konvensi Den Haag dan CRC untuk membangun mekanisme yang jelas dalam menangani international child abduction. Indonesia seharusnya mengaksesi Konvensi Den Haag dan mengintegrasikan ketentuannya ke dalam hukum domestik, mengikuti pendekatan terstruktur seperti yang diterapkan di Singapura untuk menangani kasus international child abduction secara lebih efektif.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>147173</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-14 12:47:43</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-01-14 14:26:43</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>