<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="146991">
 <titleInfo>
  <title>OPTIMALISASI SUHU TERHADAP KEKONTRASAN ZAT WARNA HEMATOKSILIN EOSIN PADA PREPARAT JARINGAN EMBRIO AYAM UMUR INKUBASI. 7 HARI</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>DEA ARRANOYA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran Hewan</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Optimalisasi suhu saat pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE) pada jaringan embrio ayam umur inkubasi 7 hari penting karena suhu yang optimal dapat memengaruhi kekontrasan zat warna dan hasil akhir pewarnaan. Proses pewarnaan HE umumnya menggunakan suhu ruangan, optimalisasi suhu pada jaringan embrio ayam dapat memengaruhi permeabilitas jaringan serta viskositas zat warna. Optimalisasi suhu pada proses pewarnaan dapat dilakukan dengan menggunakan oven (microwave). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu pemanasan menggunakan microwave terhadap kekontrasan zat warna HE pada pewarnaan jaringan embrio ayam umur inkubasi 7 hari. Penelitian ini menggunakan sampel jaringan embrio ayam umur inkubasi 7 hari yang dibuat menjadi preparat jaringan kemudian dilakukan proses pewarnaan dengan perlakukan suhu yang berbeda yaitu suhu ruangan 25°C dan suhu microwave 37°C. Pengamatan dilakukan dengan membandingkan hasil pewarnaan pada suhu ruangan dan suhu microwave di bawah mikroskop perbesaran 40x dan 400x serta menggunakan perangkat lunak imageJ dengan parameter penelitian adalah pengukuran intensitas warna inti dan sitoplasma, selanjutnya data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel. Berdasarkan pengamatan hasil pewarnaan di bawah mikroskop tampak perbedaan kontras hasil pewarnaan dengan suhu microwave lebih baik dibandingkan dengan suhu ruangan. Pemeriksaan menggunakan ImageJ menunjukkan persentase kekontrasan pewarnaan dengan suhu ruangan 57,76%, sedangkan pewarnaan dengan suhu microwave 79,13%. Persentase intensitas warna inti pada suhu ruangan adalah 12,29% sedangkan pada suhu microwave 13,75%. Persentase intensitas warna sitoplasma pada suhu ruangan adalah 32,17% sedangkan pada suhu microwave 34,23%. Suhu 37°C adalah suhu yang optimal digunakan pada proses pewarnaan untuk menghasilkan kekontrasan yang lebih baik serta tidak merusak morfologi dari jaringan.&#13;
&#13;
Kata kunci : Embrio ayam, hematoksilin, eosin, microwave&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>146991</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-13 18:37:45</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-01-14 08:50:22</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>