<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="146983">
 <titleInfo>
  <title>KARAKTERISTIK PENGERINGAN CABAI MERAH KERITING VARIETAS LADO F1 BERDASARKAN SUHU BLANSIR DAN SUHU PENGERINGAN</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Yusri Fitra</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>&#13;
Cabai merah keriting varietas Lado F1 adalah tanaman hortikultura dengan warna merah cerah, tingkat kepedasan tinggi, dan nilai gizi yang menjadikannya penting dalam industri kuliner. Proses pascapanen, seperti blansir untuk menginaktivasi enzim perusak dan pengeringan untuk mengurangi kadar air hingga di bawah 11%, bertujuan memperpanjang masa simpan dan menjaga kualitas. Penelitian ini mengkaji dampak suhu blansir terhadap karakteristik pengeringan dan pengaruh suhu blansir serta suhu pengeringan terhadap mutu fisik bubuk cabai. Tujuan penelitian ini adalah Menentukan karakteristik pengeringan cabai merah dengan variasi  suhu pengeringan dan suhu blansir, dan menentukan mutu fisik bubuk cabai berbagai suhu blansir dan suhu pengeringan. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan ilmiah tentang pengolahan cabai menjadi bubuk serta menjadi referensi untuk penelitian lanjutan.&#13;
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cabai keriting varietas Lado yang diperoleh dari petani di Kabupaten Aceh Tengah, dan alat yang digunakan pada penelitian ini adalah, water bath. pengering kabinet dengan suhu terkendali, desikator, tray, colorimeter, timbangan digital, Grinder,  dan ayakan 60 Mesh Proses penelitian dimulai dengan tahapan pra-pengeringan, yang meliputi pembersihan dan sortasi cabai, diikuti dengan proses blansir menggunakan metode perebusan pada suhu 70°C, 75°C, dan 80°C. Setelah proses blansir, kadar air cabai diukur menggunakan metode oven sebagai langkah awal sebelum pengeringan. Pengeringan dilakukan menggunakan pengering kabinet dengan suhu udara terkendali, dengan tiga level suhu pengeringan yang diterapkan, yaitu 50°C, 55°C, dan 60°C. Selama proses pengeringan, berat sampel cabai ditimbang setiap 30 menit untuk memantau penurunan berat, yang kemudian dikonversi menjadi data penurunan kadar air. Parameter yang diamati dalam pengeringan meliputi laju pengeringan, rasio kadar air, dan jumlah air yang diuapkan. Setelah mencapai tingkat kekeringan yang diinginkan, cabai kering digiling menggunakan grinder dan hasilnya diayak dengan ayakan 60 mesh. Sifat fisik bubuk cabai yang diukur mencakup kadar air, warna, dan densitas curah, serta dihitung rendemen bubuk cabai terhadap cabai kering dan cabai segar. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air rata-rata cabai pasca blansir pada suhu 70-80°C adalah 78  ± 0.80% bb. dimana cabai yang diblansir pada 80°C dan dikeringkan pada 60°C memiliki laju pengeringan tertinggi. Pada perlakuan blansir 75°C dan pengeringan 60°C adalah jumlah air yang teruapkan terbesar yaitu 374,9 grH2O. Rasio kadar air tertingi diperoleh dari perlakuan blansir 75°C dan pengeringan 55°C. Hasil mutu fisik pada penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan B3P3 (blansir 80°C, pengeringan 60°C) menghasilkan kadar air di bawah 11%. Perlakuan B3P1 mencatat nilai ΔE terendah sebesar 32,58, serta densitas curah optimal sekitra 0,342 sampai dengan 0,526 gr/cm3, dengan rendemen terbaik diperoleh dari perlakuan B1P3 dengan nilai 25,275%.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>146983</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-13 17:22:51</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-01-14 08:44:57</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>