<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="146661">
 <titleInfo>
  <title>PENGELOLAAN RISIKO PETERNAKAN SAPI BERBASIS TIPOLOGI USAHA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Sri Handayani</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Prog. Studi Doktor Ilmu Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sri Handayani. Pengelolaan Risiko Peternakan Sapi Berbasis Tipologi Usaha di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si., IPU sebagai promotor,  Prof. Dr. Ir. Samadi, M.Sc.,IPU sebagai Ko-Promotor I dan Dr. Ir. Safrida, M.Si sebagai Ko-Promotor II&#13;
&#13;
Peternakan merupakan salah satu sektor pertanian penting yang terbukti mampu meningkatkan pendapatan masyarakat terutama di negara-negara berkembang berpenghasilan rendah dan menengah. Di provinsi Aceh peternakan merupakan salah satu usaha yang sangat potensial  untuk dikembangkan. Kondisi ini didukung oleh kondisi sosial budaya masyarakat Aceh yang suka mengkonsumsi daging dan potensi sumberdaya lahan   beberapa wilayah di Aceh yang mendukung pengembangan peternakan. Peternakan sapi dapat di kategorikan berdasarkan sistem pemeliharaan yang digunakan. Setiap sistem memiliki karakteriatik dan metode yang berbeda dalam mengelola ternak sapi. Tipologi usaha peternakan sapi berdasarkan sistem pemeliharaan terdiri dari sistem pemeliharaan ekstensif, sistem pemeliharan intensif dan sistem pemeliharaan semi intensif. Setiap sistem memiliki kelebihan dan kekurangan pada tujuan produksi, sumber daya yang tersedia dan kondisi lokal. Pemeliharaan sistem pemeliharaan yang tepat dapat mempengaruhi produksi, kesehatan ternak dan termasuk keberlanjutan usaha peternakan. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis karakteristik peternakan sapi berdasarkan tipologi usaha, (2) menganalisis pengaruh antar variabel pengelolaan risiko dalam peternakan sapi berdasarkan tipologi usaha, (3) menganalisis simulasi strategi pengelolaan risiko peternakan sapi berbasis tipologi usaha peternakan sapi di Aceh.&#13;
Karakteristik peternakan sapi bervariasi tergantung pada tipologi usaha yang diterapkan. Setiap sistem pemeliharaan memiliki kelebihan dan kekurangan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kondisi lingkungan, ketersediaan pakan, metode pengelolaan kesehatan dan tujuan produksi. Tipologi usaha peternakan merujuk pada pengelompokkan usaha peternakan berdasarkan berbagai kriteria, seperti jenis ternak, skala operasional, tujuan usaha, dan sistem pemeliharaan. Pada penelitian ini tipologi usaha berdasarkan sistem manajemen terdiri dari sistem pemeliharaan ternak tradisional (ektensif), intensif dan semi intensif. Berdasarkan hal tersebut lokasi penelitian dilakukan di tiga kabupaten yaitu kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh Utara dimana dilokasi tersebut terdapat masing-masing sistem pemeliharaan ternak yang terdiri dari sistem pemeliharaan ternak secara ekstensif, sistem pemeliharaan ternak secara intensif dan sistem pemeliharaan ternak secara semi intensif.&#13;
Menganalisis faktor yang mempengaruhi hubungan antar variabel pengelolaan risiko dalam peternakan sapi berdasarkan tipologi usaha dapat dilakukan dengan pendekatan persamaan simultan, dimana persamaan ini digunakan untuk memahami bagaimana variabel-variabel tersebut saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain secara bersamaan. Adapun spesifikasi setiap persamaan dalam ketiga sistem pemeliharaan sapi terdiri dari jumlah ternak sapi, produksi daging sapi dan harga ternak sapi. Pada sistem pemeliharaan ekstensif jumlah ternak dipengaruhi oleh biaya inseminasi, pakan ternak dan risiko penyakit. Produksi daging sapi dipengaruhi oleh jumlah ternak dan risiko produksi. Sedangkan harga ternak sapi dipengaruhi oleh produksi daging, biaya obat dan risiko harga. Pada sistem pemeliharaan intensif jumlah ternak dipengaruhi oleh biaya inseminasi dan pakan ternak. Produksi dipengaruhi oleh jumlah ternak, biaya inseminasi dan risiko produksi. Sedangkan harga ternak sapi dipengaruhi oleh biaya obat. Pada sistem semi intensif jumlah ternak sapi dipengaruhi oleh biaya inseminasi, pakan ternak, harga ternak dan risiko penyakit. Produksi daging dipengaruhi jumlah ternak, biaya inseminasi dan risiko produksi. Sedangkan harga ternak dipengaruhi oleh produksi daging, biaya inseminasi dan risiko harga. Biaya inseminasi, pakan ternak, dan jumlah ternak memiliki pengaruh positif signifikan terhadap produksi dan harga ternak, sedangkan risiko (penyakit, produksi, harga) umumnya berdampak negatif. &#13;
Simulasi strategi pengelolaan risiko peternakan sapi sistem pemeliharaan ekstensif jika penurunan risiko penyakit sebesar 10 persen, maka jumlah ternak sapi naik menjadi 19.351 persen, produksi daging naik sebesar 9.826 persen dan harga turun 1.800 persen. Penurunan risiko produksi 10 persen akan mengakibatkan jumlah ternak naik sebesar 0.428 persen, produksi daging naik sebesar 2.732 persen, harga ternak turun sebesar 0.501 persen. Penurunan risiko harga sebesar 10 persen berdampak pada jumlah ternak naik menjadi 0.477 persen, produksi daging naik menjadi 0.24 persen dan harga turun menjadi 0.559 persen. Pada sistim pemeliharaan intensif jika terjadinya penurunan risiko penyakit sebesar 10 persen maka jumlah ternak naik 2.424 persen, produksi daging naik 1.223 persen dan harga ternak naik sebesar 0.002 persen. Jika risiko produksi turun maka produksi naik menjadi 1.027 persen dan harga ternak turun menjadi 0.001 persen. Jika risiko harga turun maka akan menaikkan jumlah ternak sapi 0.010 persen, produksi daging sebesar 0.022 dan menurunkan harga ternak sebesar 0.047 persen. Pada sistem pemeliharaan semi intensif, jika terjadinya penurunan risiko penyakit sebesar 10 persen akan meningkatkan jumlah ternak 1.535 persen, produksi daging naik 0.798 persen, harga ternak naik 0.264 persen. Penurunan risiko produksi sebesar 10 persen, maka berdampak pada jumlah ternak naik sebesar 0.245 persen, produksi daging naik 0.915 persen, harga naik sebesar 0.301 persen. Penurunan risiko harga ternak sebesar 10 persen akan mengakibatkan jumlah ternak turun 0.602 persen, produksi daging turun 0.305 persen dan harga ternak turun 0.740 persen. Penurunan risiko penyakit memberikan dampak tersebsar pada peningkatan jumlah ternak dan produksi daging, terutama pada sistem ekstensif. Risiko harga dan produksi juga mempengaruhi hasil tetapi dampaknya lebih kecil dibandingkan risiko penyakit.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>146661</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-11 17:06:02</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-01-13 09:36:49</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>