<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="145535">
 <titleInfo>
  <title>GAMBARAN PENGETAHUAN GURU TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA EPILEPSI DI SEKOLAH LUAR BIASA NEGERI KEBAYAKAN TAKENGON</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Aura Ichlasil Wafa</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Keperawatan</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Epilepsi adalah gangguan neurologis yang dapat menyebabkan kondisi kegawatdaruratan seperti Sudden Unexpected Death in Epilepsy (SUDEP), cedera fisik, dan komplikasi lainnya apabila tidak ditangani secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan guru tentang pertolongan pertama epilepsi di Sekolah Luar Biasa Negeri Kebayakan Takengon. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain descriptive study, melibatkan 85 responden yang diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berisi 23 pernyataan terkait pengetahuan pertolongan pertama epilepsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru memiliki pengetahuan baik (59,5%) pada aspek memberikan ruang yang cukup bagi siswa yang kejang (97,3%), memahami definisi epilepsi (94,6%), dan menghubungi orang tua siswa (93,2%). Namun, pengetahuan guru masih rendah terkait kejang lebih dari 5 menit yang menandakan kondisi gawat darurat (21,6%) dan tindakan saat terjadi perdarahan hidung setelah kejang berakhir (24,3%). Meskipun sebagian besar guru tidak mendapatkan pelatihan formal, pengetahuan mereka dipengaruhi oleh akses informasi dari media, pengalaman pribadi, dan tanggung jawab profesional. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pengetahuan guru tentang pertolongan pertama epilepsi termasuk dalam kategori baik. Institusi pendidikan diharapkan dapat menyelenggarakan pelatihan rutin, menyediakan panduan tertulis, dan meningkatkan literasi guru mengenai pertolongan pertama epilepsi.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>145535</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-07 12:39:35</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-01-07 15:17:09</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>