<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="143761">
 <titleInfo>
  <title>PENILAIAN PARUT HIPERTROFIK BERDASARKAN PATIENT AND OBSERVER SCAR ASSESSMENT SCALE (POSAS) DI RSUDZA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Fiona Natasya</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued></dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Parut hipertrofik merupakan hasil penyembuhan luka yang abnormal pada fase remodelling, ditandai dengan lesi eritematosa yang meninggi, tidak melebihi luas luka, serta sering disertai dengan rasa gatal dan nyeri. Penilaian kualitas parut dapat dilakukan menggunakan instrumen Patient and Observer Scar Assessment Scale (POSAS), yang menggabungkan penilaian subjektif pasien terhadap nyeri, gatal, warna, kelenturan, ketebalan, dan relif permukaan parut, serta penilaian objektif pengamat yang meliputi vaskularitas, pigmentasi, ketebalan, kelenturan, relif permukaan, dan luas permukaan parut. POSAS telah terbukti reliable dan valid untuk mengukur kualitas parut. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas parut hipertrofik menggunakan POSAS di RSUDZA Banda Aceh dengan metode observasional deskriptif dan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan dari 21 pasien yang memenuhi kriteria inklusi di Poliklinik Bedah Plastik dan Poliklinik Kulit dan Kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien adalah perempuan (57,1%) dan berada dalam kelompok usia remaja (47,6%). Parut hipertrofik paling sering ditemukan pada ekstremitas superior (57,1%), dengan trauma kecelakaan sebagai penyebab utama (66,7%). Berdasarkan hasil kuesioner umum POSAS, sebagian besar pasien menilai bekas luka mereka sebagai &quot;biasa saja&quot; (57,1%), sementara pengamat menilai kualitas bekas luka sebagai &quot;minimal&quot; (57,1%). Berdasarkan pertanyaan spesifik POSAS, pasien merasakan perbedaan yang cukup nyata pada penampilan parut mereka, meskipun tidak ada gangguan signifikan pada sensasi parut. Sebaliknya, pengamat menilai parut pasien tidak jauh berbeda dari kulit normal di sekitarnya, yang menunjukkan bahwa pasien lebih dipengaruhi oleh aspek estetika parut. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan persepsi antara pasien dan pengamat, yang menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam manajemen parut hipertrofik, dengan mempertimbangkan baik penilaian objektif maupun subjektif, terutama dalam aspek estetika.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Parut hipertrofik, POSAS</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>143761</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-12-24 13:03:02</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-12-24 15:06:25</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>