<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="143283">
 <titleInfo>
  <title>PERSEPSI MAHASISWA UNIVERSITAS SYIAH KUALA TERHADAP PERILAKU FLEXING INFLUENCER SHELLA SAUKIA DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ALIFA SALSABILA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Politik	Ilmu Komunikasi</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
Perilaku flexing di media sosial telah menjadi fenomena yang semakin menonjol dalam budaya digital saat ini, di mana individu secara terbuka memamerkan gaya hidup mewah dan prestasi pribadi mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami persepsi mahasiswa terhadap perilaku flexing yang dipraktikkan oleh influencer Shella Saukia di platform Instagram. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, dan menggunakan teori SOR data diperoleh melalui wawancara tidak terstruktur dengan 5 informan yang merupakan mahasiswa USK yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menggambarkan adanya keragaman dalam persepsi mahasiswa terhadap perilaku flexing Shella Saukia. Beberapa mahasiswa melihatnya sebagai sumber inspirasi, memandangnya sebagai contoh kesuksesan yang dapat memberikan motivasi untuk mencapai tujuan mereka sendiri. Mereka menilai bahwa melalui konten flexing, Shella Saukia dapat memotivasi individu untuk berusaha lebih keras dan meraih kesuksesan yang serupa. Namun, di sisi lain, terdapat juga pandangan kritis yang mengkritik perilaku flexing sebagai pencitraan yang berlebihan dan tidak autentik. Beberapa mahasiswa merasa terbebani oleh tekanan sosial yang ditimbulkan oleh konten flexing, merasa tertekan oleh standar kehidupan yang tampaknya tidak terjangkau. Dalam konteks dampak, perilaku flexing Shella Saukia dapat dilihat sebagai bentuk branding pribadi yang efektif, yang meningkatkan visibilitas dan daya tarik mereka. Namun demikian, perilaku ini juga dapat menimbulkan perasaan iri dan rendah diri di antara pengikutnya, serta memicu konsumsi yang berlebihan dan perbandingan sosial yang merugikan. Temuan ini memberikan wawasan yang penting tentang bagaimana perilaku flexing dipahami dan dipengaruhi oleh mahasiswa, serta implikasinya terhadap dinamika sosial dan psikologis dalam budaya media sosial. &#13;
Kata Kunci: Persepsi, Flexing, Media Sosial, Instagram, Shella Saukia, Mahasiswa &#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>143283</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-12-20 16:09:57</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-12-20 16:18:39</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>