<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="141283">
 <titleInfo>
  <title>KAJIAN  PENGGUNAAN   LIDAH  BUAYA  DALAM  PROSES PEMURNIAN   MINYAK   JELANTAH    SEBAGAI   BAHAN   BAKU   PEMBUATAN   SABUN</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Mekar sari Dewi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2009</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sabun  merupakan  salah  satu  produk   hasil  pengolahan  dengan   bahan   baku  minyak hewani  atau  minyak  nabati  dengan   penambahan  alkali.   Pengolahan  minyak   menjadi  sabun akan   meningkatkan  nilai  tambah   dari   minyak   tersebut.   Pada  umumnya  industri  sabun   di Indonesia  menggunakan  bahan   baku  minyak   nabati  karena  tersedia   dalam  jumlah  banyak terutama   minyak  kelapa  sawit.  Akan  tetapi  penggunaan  minyak  kelapa  sawit  di  Indonesia pada  saat  ini  masih  difokuskan  untuk  kebutuhan pangan  yang  terus  meningkat.  Maka salah satu  altematif pengganti  minyak  kelapa  sawit  sebagai  sumber  minyak  nabati  adalah  dengan menggunakan minyak jelantah.&#13;
Selama  penggorengan, terjadi penurunan mutu minyak  goreng  akibat  pemanasan. Bila digunakan   langsung,  minyak  jelantah  akan  menghasilkan  sabun  dengan  mutu  rendah.  Salah satu  teknik  yang  diharapkan dapat  memperbaiki  mutu sabun  yang  dihasilkan  adalah  dengan memurnikan  minyak  jelantah  menggunakan  Lidah   Buaya.  Proses   pembuatan   sabun   yang dilakukan   menggunakan  alkali   berjenis  soda  api  atau  kaustik  soda  yang  merupakan  alkali buatan  yang bcrasal dari hasil samping industri yang dijual murah di pasaran.  Selain harganya murah,  pemanfaatan  soda  api  dapat  menjadi jalan  keluar  dalam  pengelolaan  hasil  samping industri  yang kurang  ekonomis.&#13;
Bahan  yang  digunakan  dalam   penelitian  ini  adalah   minyak  jelantah  yang  diperoleh dari  restoran  &quot;Wong   Solo&quot;  Neusu  Jaya,  Banda  Aceh  dan  Lidah  Buaya  jenis Aloe chinensis Baker  yang  diperoleh   dari   pekarangan  rumah  di  Neusu  Aceh,  Banda  Aceh,  serta  soda  api yang dapat  dibeli di toko  bangunan. Penelitian  ini menggunakan Rancangan  Acak  Kelompok (RAK)   pola   faktorial   yang   terdiri   dari   dua   faktor.   Faktor   I  adalah   variasi   konsentrasi&#13;
bleaching agent  Lidah  Buaya  yang terdiri  dari  empat  taraf yaitu  :    L1  = 50%,  L2 = 75%,  &#13;
%,  L3 =1 00% dan  L4  =  125%  dari  berat  bahan  yang  digunakan.   Faktor  II   adalah  variasi  konsentrasi soda  api  yang digunakan  dalam  pembuatan sabun,  yaitu  S1  = 25%,  S2 = 50%,  dan  S3  = 75%&#13;
dari  berat  air.  Data  yang  diperole  dianalisis   dengan  analisis  ragam  dan jika  ada  pengaruh, maka dilanjutkan  dengan  uji  BNT (Beda Nyata Terkecil).&#13;
Parameter   yang   diamati  dan  dianalisis   pada  minyak  jelantah  sebelum   dan  setelah pemumian meliputi  bilangan  peroksida,   bilangan  asam , bilangan  iod,  bilangan  penyabunan, viskositas,  dan  densitas   serta  uji  hedonik   (organoleptik)  dan  pembanding  pada  warna  dan aroma   minyak.   Sedangkan  parameter  yang   dianalisis   dan   diamati   pada   sabun   meliputi rendemen,   kadar  air  dan  zat  menguap,   jumlah  asam   lemak,  kadar   yang  tak   larut  dalam alkohol,   alkali  bebas   dan   minyak   mineral.   Uji  organoleptik  yang   dilakukan    pada  sabun meliputi  wama,  aroma  dan tekstur  dari sabun  yang dihasilkan.&#13;
Hasil penelitian  yang  telah  dilakukan  menunjukkan  bahwa  proses  pemurnian  terhadap minyak  jelantah   dengan   konsentrasi   Lidah   Buaya   125%   mengalami   penurunan   bilangan peroksida    menjadi    34   mgO2/100   gram,   dari   bilangan    peroksida    minyak   jelantah    580 mgO2/100   gram.   Hasil   analisis   sidik   ragam   menunjukkan   bahwa   perbedaan    konsentrasi pemurnian   Lidah  Buaya  berpengaruh  nyata  (P0,01)  terhadap  bilangan   peroksida  minyak jelantah.     Penurunan     bilangan     peroksida     setelah     pemurnian     minyak    jelantah    juga menyebabkan   perubahan    warna    minyak   dari   coklat   kehitaman    (gelap)   menjadi    merah kekuningan   (lebih  terang).   Bilangan   penyabunan   pada  minyak  jelantah   setelah   pemurnian pada  konsentrasi   50%   meningkat  yaitu  285,20   mg  KOH/gram   dari   bilangan   penyabunan minyak jelantah (95,37  mg  KOH/gram).  Sedangkan   bilangan  asam,  bilangan  iod,  viskositas dan  densitas  berpengaruh tidak  nyata  (P&gt;0,05)  terhadap  minyak jelantah setelah  pemumian. Perubahan   fisiko-kimia  yang  terjadi  pada  minyak  jelantah   setelah  pemumian   diduga  karena Lidah  Buaya  yang  digunakan  sebagai  bleaching  agent  mampu  menyerap   zat  pengotor  dan&#13;
mengikat senyawa peroksida dalam  minyak. jelantah.  Kemampuan Lidah Buaya  ini  dapat dilihat  dari  kandungan  senyawa  yang  terdapat  didalamnya.   Lidah  Buaya  mengandung senyawa lignin  yang berperan sebagai  bahan penyerap yang baik dan kandungan saponin &#13;
sebagai antiseptik dan pembersih yang baik.&#13;
Hasil penelitian terhadap sabun yang dihasilkan menunjukkan bahwa interaksi antara konsentrasi  Lidah  Buaya dan  soda api  (LS)  memberikan pengaruh sangat nyata (P&gt;0,0I) terhadap rendemen sabun yang diperoleh.  Hasil  rendemen sabun tertinggi  dihasilkan pada perlakuan konsentrasi  50% Lidah Buaya dan 75% soda api  (L1 S3) dengan nilai   160, 15%. Hasil analisis sidik ragam pada sabun menunjukkan bahwa faktor konsentrasi soda api (S) memberikan pengaruh sangat nyata (P0,01)  terhadap kadar air dan zat menguap,  bagian yang tak larut dalam  alkohol, kadar alkali  bebas dan organoleptik tekstur.  Sedangkan jumlah asam  lemak  menunjukkan bahwa semua  perlakuan yang dilakukan  memberikan pengaruh yang tidak. nyata (P&gt;0,05) terhadap sabun. Sabun yang dibuat dengan perlakuan soda api  75% (S3)    dan  50%  (S2)  pada  minggu  ke-0  (nol)  masih  mengandung  alkali   bebas  sebesar&#13;
2,54 -  5,11 % (S3) dan 0,00-0,00% (S2).  Sedangkan sabun yang dibuat dengan perlak.uan konscntrasi  soda api  25% (S1)  tidak mengandung alkali  bebas.  Sabun yang dibuat dengan konsentrasi  soda api  50% (S2) dan disimpan selama 4 minggu sudah tidak mengandung alkali bebas (0,00%), sedangkan sabun yang dibuat dengan konsentrasi soda api 75% masih mengandung  alkali   bebas  berkisar  antara   (2,05-2,37%),   walaupun  nilainya  cenderung menurun.&#13;
Hasil  analisis  memperlihatkan  bahwa  penggunaan  konsentrasi  soda  api   sebagai sumber  NaOH  mempengaruhi  mutu  sabun  yang dihasilkan.  Konsentrasi  bleaching  agent Lidah  Buaya yang digunak.an  untuk memurnikan  minyak jelantah  memperlihatkan pengaruh terhadap sabun yang dihasilkan, namun interaksi keduanya memberikan pengaruh yang tidak signifikan.&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>SOAPS</topic>
 </subject>
 <classification>668.12</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>141283</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-11-19 10:56:07</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-11-19 11:12:46</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>