<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="139701">
 <titleInfo>
  <title>INVESTIGASI SUBSURFACE KAWASAN KARST DI GUA EK LEUNTIE BERDASARKAN METODE GROUND PENETRATING RADAR (GPR)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Salsa Nazia Putri</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas mipa</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Theses</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Gua Ek Leuntie merupakan gua karst di Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar yang menyimpan 12 lapisan tsunami purba sejak 7500 tahun yang silam. Lapisan-lapisan tersebut perlu dilestarikan sebagai geopark paleotsunami di Aceh. Namun demikian, terdapat banyak tantangan untuk pengembangan objek publik di kawasan karst seperti sinkhole dan longsor. Oleh karena itu, pengujian potensi bahaya di sekitar kawasan telah dilakukan menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR) dengan frekuensi 700 MHz dan 250 Mhz. Metode GPR digunakan karena dapat menampilkan struktur bawah permukaan yang dangkal dengan resolusi yang tinggi. Metode GPR diaplikasikan pada 7 lintasan pengukuran yang berada di sekitar Gua Ek Leuntie. Radargram yang telah diperoleh kemudian diolah menggunakan perangkat lunak GPRPy untuk memperjelas sinyal refleksi.  Interpretasi radargram GPR pada seluruh lintasan menunjukkan terdapat tiga lapisan sedalam 1.5 m. Interpretasi GPR frekuensi 700 MHz dan 250 MHz menghasilkan radargram yang sama dengan kedalaman yang sangat dangkal, namun batas antar lapisan terlihat lebih jelas pada frekuensi 700 MHz. Data bor yang diambil dari beberapa sampel menunjang interpretasi dari metode GPR. Berdasarkan data bor, lapisan yang memiliki kepadatan rendah berada pada lapisan tanah berpasir, sedangkan lapisan yang memiliki kepadatan tinggi berada di lapisan jalan aspal dan batuan dasar. Lapisan dengan kepadatan rendah memiliki potensi bahaya seperti penurunan permukaan tanah. Area tersebut berada di sebelah barat hingga selatan gua. Berdasarkan radargram GPR yang telah didapatkan, area penelitian didominasi oleh tanah liat timbunan, tanah berpasir, pasir lempungan dan batuan dasar. Hasil dari penelitian diharapkan dapat dijadikan acuan mitigasi dalam pembangunan Geopark Gua Ek Leuntie.&#13;
Kata kunci: gpr, geopark, paleotsunami, karst, konstanta dielektrik</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>139701</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-10-30 12:25:23</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-10-30 14:37:29</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>