<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="138939">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH  LAMA  BLANSIR  DAN  SUHU  PEGERINGAN  KACANG HIJAU  TERHADAP  MUTU  TEPUNG  KACANG  HIJAU</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Herizal</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2007</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kacang hijau merupakan  salah satu protein nabati yang dikonsumsi secara luas di negara-negara Asia termasuk  Indonesia. Selama penyimpanan, biji kacang hijau dapat mengalami beberapa perubahan seperti pengkeriputan, kontaminasi mikroba,  dan  kerusakan   pada  biji  yang  disebabkan   oleh  serangga.  Salah  satu alternatif untuk  mencegah  kerugian  yang  disebabkan  oleh perubahan-perubahan tersebut  adalah mengolah  kacang hijau menjadi produk yang dapat disimpan  lama seperti tepung  kacang hijau. Tepung  kacang  hijau dapat digunakan  sebagai bahan campuran  dalam  pembuatan  roti,  cake,  biskuit,  mie,  makanan  sapihan,  dan lain-lain.  Untuk  mendapatkan   tepung   kacang   hijau  yang  berkualitas   tinggi  perlu diperhatikan kondisi bahan baku yang digunakan  dan proses pembuatannya.&#13;
Adanya  enzim  peroksidase  yang  tahan  panas  di  dalam  kacang  polongan dapat menyebabkan  reaksi pencoklatan  (browning) selama proses pengolahan  dan penyimpanan. Enzim ini perlu diinaktifkan agar tidak mempengaruhi mutu produk olahannya. Salah satu cara  untuk  menginaktifkan  enzim tersebut  adalah  melalui proses  pengukusan.  Pengeringan  adalah  suatu  proses  menghilangkan  sebagian besar air dari suatu bahan yang lembab dengan  cara menguapkan  air tersebut dan membuang   uap  yang  terbentuk.  Pengeringan   yang  terlalu  cepat  dapat  merusak bahan  yakni  permukaan   bahan  terlalu  cepat  kering,  sehingga  tidak  sebanding dengan kecepatan  pergerakan  air permukaan.&#13;
Tujuan penelitian  ini untuk mengetahui pengaruh  lama blansir  dan   suhu pengeringan   kacang  hijau  terhadap  mutu  tepung  kacang  hijau  yang  dihasilkan. Lama  blansir  dan  suhu  pengeringan   kacang  hijau  diduga  akan  mempengaruhi mutu tepung kacang hijau yang dihasilkan.&#13;
Penelitian   ini  menggunakan  Rancangan   Acak  Lengkap  (RAL)  faktorial pola   4x3 dengan dua faktor, yaitu  faktor lama blansir (L) yang terdiri atas empat taraf:  L1  = 0 menit,  L2 = 3  menit.  L3 =5 menit.  L4 = 7  menit  dan faktor suhu&#13;
&#13;
pengeringan  (S) yang terdiri  atas tiga taraf:  S1= 50 °C, S2 = 60 °C, dan S3 = 70&#13;
C. Setiap  kombinasi  perlakuan  dilakukan  2  kali  ulangan,  sehingga  seluruhnya tcrdapat 24 satuan percobaan. Data yang dianalisis  dengan anova dan dilanjutkan dengan  uji  BNT.  Parameter  yang diukur  adalah  kadar  protein,  kadar air, kadar serat kasar, kadar abu dan organoleptik.&#13;
Lama blansir  berpengaruh  sangat  nyata (P0,01) terhadap  kadar  protein, kadar air, kadar serat kasar,  kadar abu dan berpengaruh  nyata (P0,05)  terhadap nilai organoleptik warna serta berpengaruh tidak nyata (P&gt;0,05) terhadap nilai organoleptik   aroma.   Suhu   pengeringan   berpengaruh   sangat   nyata   (P0,01) terhadap  kadar protein,  kadar air, kadar  serat kasar,  kadar abu dan berpcngaruh nyata  (P0,05)  terhadap  nilai organoleptik  warna  serta berpengaruh  tidak  nyata (P&gt;0,05) terhadap nilai organoleptik aroma. lnteraksi antara lama blansir dan suhu pengcringan  hanya  berpengaruh     nyata  (P0,05)  terhadap   nilai  organoleptik tekstur  dan  berpengaruh  tidak  nyata  (P&gt;,05)  terhadap  kadar  protein,  kadar  air, kadar serat kasar, kadar abu dan organoleptik  warna dan aroma.&#13;
Tepung kacang hijau dengan kualitas organoleptik terbaik didapat dari perlakuan lama blansir selama 0 menit dan suhu pengeringan 60°C dengan karakteristik  sebagai berikut: kadar protein 27,07%, kadar air 5,34%, kadar serat kasar   1,28%,  kadar  abu  4,22%,  nilai  organoleptik   warna   3,48  (biasa),   nilai organoleptik  aroma 3,18 (biasa) dan nilai organoleptik  tekstur 3,35(biasa).&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>DRYING PROCESSES</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>PEANUTS - GARDEN CROP</topic>
 </subject>
 <classification>635.659 6</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>138939</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-10-21 09:24:06</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-10-21 09:49:17</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>