<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="138877">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH    VARIASI   LAMA    BLANSIR   DAN    LAMA PENGERINGAN PADA  PEMBUATAN TEPUNG  LABU  TANAH  (CUCURBITA MOSCHATA)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Daiyan Mustafa</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2007</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Krisis pangan dan gizi  di  Indonesia serta beberapa negara lain  telah  membuka peluang bagi pengembangan komoditas pangan lokal  yang kurang mendapat perhatian masyarakat. Komoditas pangan utama (padi/beras)  yang terkadang harus diimpor dalam jumlah  besar,  dapat  berkurang jika  mampu  dilakukan  penganekaragaman pangan, diantaranya  dengan mengembangkan komoditas umbi-umbian  dan buah-buahan yang nyaris tidak dikenal  lagi.  Dengan adanya perkembangan teknologi  pengolahan, pemanfaatan labu tanah sebagai produk pangan lebih bervariasi, diantaranya mengolah labu  tanah menjadi  tepung yang memiliki  cita  rasa,  bergizi  tinggi, dan  disukai  oleh masyarakat. Pemanfaatan  labu tanah dalam bentuk tepung merupakan penganekaragaman pangan menjadi  suatu produk yang memberikan manfaat  dalam  peningkatan nilai  guna dan berilai  ekonomis,  serta menjadikan produk dapat disimpan dalam   jangka waktu yang lama dan untuk memperkecil ruang simpan bahan.&#13;
Blansir  dan pengeringan  merupakan faktor penting untuk menghasilkan tepung&#13;
dengan mutu yang lebih  baik.  Pengeringan  adalah  proses pemindahan panas dan uap secara simultan, yang memerlukan energi  panas untuk menguapkan kandungan air yang dipindahkan   dari  permukaan  bahan  yang  dikeringkan   oleh  media  pengering   yang biasanya berupa panas.  Pengeringan  bahan dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengering buatan (oven)&#13;
Penelitian ini  secara umum bertujuan untuk mempelajari  cara pembuatan tepung labu tanah dan secara khusus untuk mengetahui pengaruh lama blansir dan lama pengeringan terhadap mutu tepung labu tanah yang dihasilkan.&#13;
Penelitian ini  dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial  pola 3x3 yang terdiri dari 2(dua)  faktor, yaitu:  Faktor lama blansir (P),  terdiri atas tiga taraf yaitu:  P1  = 2 menit,  P2 = 4  menit,   dan P3, =  6 menit,  dan faktor lama pengeringan (R), terdiri atas tiga taraf, yaitu:  R1 = 8 jam, R2 =  10 jam, dan R3  =  12 jam. Dengan demikian terdapat  sembilan  kombinasi  perlakuan  dengan  tiga  kali  ulangan, sehingga diperoleh 27 satuan percobaan.&#13;
Analisis produk tepung labu  tanah yang dihasilkan terdiri  dari  rendemen, kadar air,  kadar serat kasar,  kadar pati, kadar abu, P-karoten dan organoleptik (wama,  rasa dan bau).&#13;
Hasil    analisis   sidik   ragam   rendemen   menunjukkan    bahwa   faktor   lama pengeringan  (R) berpengaruh sangat nyata (P &lt; 0,0 I)  terhadap rendemen tepung labu&#13;
tanah, sedangkan faktor perlakuan lama blansir (P) dan interaksi lama blansir dan lama pengeringan tidak berpengaruh nyata (P &gt; 0,05) terhadap tepung labu  tanah.  Rendemen labu tanah dengan lama pengeringan  8 jam sebesar 37,33%,  10 jam sebesar 35,55%, dan&#13;
12 jam  sebesar 33,08%.  Hasil analisis sidik ragam kadar air dari  tepung labu  tanah menunjukkan bahwa faktor  lama  pengeringan berpengaruh sangat nyata (P  &lt;  0,01)&#13;
terhadap kadar air tepung labu  tanah.  Sedangkan faktor perlakuan lama  blansir tidak berpengaruh nyata (P &gt; 0,05) terhadap kadar air tepung labu tanah.  Kadar air tepung labu&#13;
tanah  yang dihasilkan berkisar antara 6%-  12,5%,  rata-rata kadar air tepung labu  tanah yaitu 9,02%.  Hasil  analisis sidik  ragam serat kasar menunjukkan bahwa perlakuan  lama blansir  dan  lama  pengeringan  serta  interaksi   kedua  faktor  tidak  berpengaruh nyata (P &gt;  0,05)  terhadap  kadar serat  kasar tepung  labu  tan ah.  Hasil     penelitian  yang telah dilakukan terhadap  tepung  labu  tanah diperoleh kadar serat kasar sebesar 0.01  g  atau&#13;
1,0%. Hasil analisis sidik ragam kadar pati diketahui bahwa perlakuan  lama blansir dan lama  pengeringan  serta  interaksi  kedua  faktor  tidak  berpengaruh  nyata  (P  &gt;  0,05) terhadap kadar pati tepung labu tanah. Dari penelitian yang telah dilakukan,  kadar pati tepung labu tanah yang diperoleh adalah sebesar 0,59  g - 0.66  g.  Rata-rata kadar pati secara keseluruhan adalah 0,62 g atau sekitar 62%.  Hasil  analisis sidik ragam kadar abu&#13;
menunjukkan bahwa perlakuan lama blansir dan lama pengeringan serta interaksi  lama blansir dan lama pengeringan  tidak berpengaruh nyata (P &gt;  0,05)  terhadap  kadar abu tepung labu  tanah.  Kadar abu tepung  labu  tanah berkisar antara 6,23%  -  6, 72% dengan rata-rata sebesar 6,45%.  Hasil analisis sidik ragam kadar -- karoten menunjukkan bahwa faktor lama blansir dan lama pengeringan terhadap tepung labu tanah berpengaruh sangat&#13;
nyata (P &lt; 0,01) terhadap kadar B - karoten tepung labu tanah.  Sedangkan  interaksi  faktor&#13;
lama  blansir dan lama  pengeringan  tidak berpengaruh nyata  (P &gt; 0,05) terhadap kadar  B-  karoten  tepung  labu   tanah.   B-  karoten  tepung  labu   tanah   berkisar  antara&#13;
0,61  mg/I  - 2,73  mg/I  dengan rata-rata sebesar 1,70  mg/I.  Hasil  analisis sidik ragam uji&#13;
organoleptik  warna,  aroma dan rasa menunjukkan bahwa perlakuan  lama  blansir  (P),&#13;
lama pengeringan (R), dan faktor interaksi  antara lama blansir dan lama pengeringan  (R)&#13;
tidak berpengaruh nyata (P &gt; 0,05) terhadap nilai organoleptik warna tepung labu tanah.&#13;
Tepung labu  tanah dengan kualitas terbaik di  dapat dari  perlakuan lama blansir 6 menit lama  pengeringan 8  jam (P3R1,) dengan karakteristik  sebagai  berikut:  rendemen&#13;
37,50%,  kadar air  12, 17%,  serat kasar 0,01 g,  kadar pati  0,63g,  kadar abu 6,23%,  9&#13;
karoten 2,73  mg/I,  warna 3,08 (suka dan biasa), aroma 3, 13  (suka dan biasa),  rasa 2,70&#13;
(biasa dan tidak suka).&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>138877</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-10-18 10:22:40</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-10-18 10:22:40</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>