Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KAJIAN PENGERINGAN GAPLEK UBI KAYU (MANNIHOT ESCULENTA CRAFT) DENGAN MENGGUNAKAN PENGERING SURYA TIPE EFEK RUMAH KACA
Pengarang
Arjuna Rinaldi - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Nomor Pokok Mahasiswa
0505106010010
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Teknik Pertanian (S1) / PDDIKTI : 41201
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2010
Bahasa
Indonesia
No Classification
631.3
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Ubi kayu merupakan salah satu alternatif sumber karbohidrat yang cukup
penting, karena kandungan gizinya relatif tinggi sehingga mempunyai harapan untuk
dikembangkan sebagai makanan sclingan pengganti beras. Ubi kayu tanaman yang
berasal dari Brazil ini juga sering disebut dengan ketela pohon. Pengeringan
merupakan salah satu rantai penanganan pasca panen ubi yang sangat kritis.
Pengeringan secara tradisonal selama ini merupakan salah satu penyebab turunnya
mutu bahan hasil penanganan pasca panen. Pengeringan seperti ini membutuhkan
waktu yang relatif lama. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi yang efektif dalam
proses pengeringan, yaitu dengan menggunakan pcngering buatan yang diversifikasi
energi dengan memanfaatkan energi alternatif berupa energi matahari sebagai
sumber panas dan biomassa scbagai suplemen panas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengeringan gaplek
ubi kayu yang menggunakan pengering surya tipe efek rumah kaca dengan sumber
panas tambahan berbahan bakar sekam. Tempat dan waktu penelitian dilakukan di
Laboratorium Pasca Panen Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas
Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh pada bulan Juli sampai Agustus 2010.
Alat yang digunakan pada penelitian adalah pengering surya tipe efak rumah
kaca, termometer, timbangan analitik, anemometer, solarimeter, stopwatch. Bahan
yang digunakan ubi kayu.
Hasil penelitian memperlihatkan pengujian selama 2 hari pengeringan gaplek
ubi kayu, suhu rata-rata ruang pengering hari I yang mendistribusikan panasnya ke
rak pengering belum mencapai pada suhu pengeringan yang diharapkan karena pada
hari I rendahnya suhu disebabkan oleh kuantitas air bahan yang diuapkan masih
terlalu besar, sehingga dapat menurunkan suhu pada ruang dan rak pengering,
sehingga suhu rata-rata yang terbaik diperoleh pada pengukuran hari II, yaitu pada
rak 6 dan 7 sebesar 46.6C. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh radiasi
matahari yang lebih dominan memancarkan panasnya pada 2 rak ini, panas dari
suplemen pembakaran biomassa dan laju aliran udara ruang pengering yang
membawa uap air menuju pembuangan. Untuk temperatur lingkungan, dimana pada
hari I temperatur rata-rata sebesar 334'C dan pada hari II temperatur rata-rata
sebesar 34,6"C. RH pada hari I pada ventilasi A, nilai RH tertinggi 79% dan terendah
29,7%. RH tertinggi pada ventilasi B 85,7% dan terendah sebesar 27.3%. Untuk
lingkungan RH tertinggi sebesar 85,7% dan terendah 55,5%. Distribusi RH pada hari
I kedua ventilasi memperlihatkan sangat berbeda dengan lingkungan, dimana RH
ventilasi A dan ventilasi B berfluktuasi secara signifikan dibandingkan lingkungan.
Pada ventilasi A, RH tertinggi diperoleh sebesar 85,2%, terendah diperoleh sebesar
32.2%. Pada ventilasi B, RH tertinggi diperoleh sebesar 92,4% dan yang terendah
sebesar 26.3%, dan untuk lingkungan, RH tertinggi sebesar 92.7% dan terendah
sebesar 51,6%. Dari kedua hari pengujian, iradiasi surya rata-rata tertinggi diperoleh
pada hari pertama dan terendah pada hari kedua, hal ini membuktikan bahwa nilai
iradiasi matahari yang diperoleh tidak konstan karena pengaruh cuaca. Nilai
kecepatan udara antara ruang pengering dan lingkungan memperlihatkan pola yang
berbeda. Pada hari I ruang pengering nilai tertinggi diperoleh sebesa r 0,6 m/s dan
terendah 0,I m/s, untuk lingkungan nilai tertinggi diperoleh sebesar 3,6 m/s dan
terendah 0,4 m/s. Pada hari II ruang pengering nilai tertinggi diperoleh sebesar 0,5
m/s dan terendah 0.I m/s, untuk lingkungan nilai tertinggi diperoleh sebesar 2.6 m/s
dan terendah 0,4 m/s. Dari pengujian yang dilakukan selama 2 hari, kadar air gaplek
ubi kayu yang terendah diperoleh pada rak A8 sebcsar 3,5 %, tertinggi pada rak B5
sebesar 10,5 %. Untuk lingkungan, kadar air akhir yang diperoleh menunjukkan
masih tinggi, yang belum mencapai batas yang diharapkan. Kadar pati yang
diperoleh dari ubi basah sebesar 71.4 % menjadi pati tepung 24,6 %. Waktu yang
dibutuhkan untuk pengeringan gaplek ubi kayu dengan menggunakan alat pengering
ini yaitu 18 jam (2 hari), diperoleh nilai kapasitas laju pengeringan sebesar 0,83
kg/jam dengan suhu rata-rata ruang pengering sebesar 40 "€ 45 C. Untuk total
konsumsi sekam padi pada alat pengering surya yaitu sebesar 15,6 kg dan untuk
minyak tanah sebesar 330 ml. Jumlah energi listrik yang digunakan untuk
menggerakkan kipas pada alat pengerin g ini sebesar 2177280 Joule.
Tidak Tersedia Deskripsi
KAJIAN PENGERINGAN GAPLEK UBI KAYU (MANNIHOT ESCULENTA CRAFT) DENGAN MENGGUNAKAN PENGERING SURYA TIPE EFEK RUMAH KACA (Arjuna Rinaldi, 2024)
MONITORING SUHU DAN KELEMBABAN PADA PENGERING EFEK RUMAH KACA UNTUK PENGERINGAN BIJI KOPI (Nurainun, 2024)
MODIFIKASI DAN UJI KINERJA PENGERING SURYA UNTUK UBI KAYU (MANIHOT ESCULENTA) DENGAN PENAMBAHAN KINCIR ANGIN SAVONIUS SEBAGAI PENGGERAK KIPAS (Rian Juli Yanda, 2014)
KARAKTERISTIK PENGERINGAN SIMPLISIA DAUN KARI (MURRAYA KOENIGII L) MENGGUNAKAN PENGERING SURYA TIPE EFEK RUMAH KACA (ERK) (SYA JEHAN HANIFA, 2024)
PERBANDINGAN KINERJA ALAT PENGERING APKOMPA DAN APH UNTUK PENGERINGAN PISANG (Bambang SP, 2024)