<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="137565">
 <titleInfo>
  <title>DESAIN INTERIOR RUANG BELAJAR SISWA SLB BUKESRA DENGAN PENERAPAN METODE DEAFSPACE BAGI ANAK TUNARUNGU</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>MUHAMMAD KHALIL HUMAM</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik Arsitektur</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Anak  tunarungu sebagai individu dengan keterbatasan pendengaran membutuhkan ruang yang bisa mendukung kemudahan mereka dalam berkomunikasi. Kondisi ruang kelas yang berkonsep seperti ruang anak normal pada umumnya dihadapkan pada tantangan berkomunikasi anak  tunarungu. Ruang kelas anak  tunarungu memiliki prinsip dan pendekatan khusus (deafspace), diantaranya pola penataan furnitur, ruang yang lebih luas, keterjangkauan sensorik, pencahayaan, dan warna. Penelitian ini bertujuan untuk merancang ruang kelas yang mampu memberikan suasana kelas yang nyaman untuk menunjang aktivitas belajar siswa  tunarungu dalam berkomunikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif (mix-method). Simulasi ruang dilakukan untuk melihat dan membandingkan respon siswa  tunarungu ketika mereka belajar di ruang kelas awal dengan ruang kelas yang direncanakan dengan pendekatan deafspace. Hasil simulasi menunjukkan adanya perubahan dari aktivitas belajar dan komunikasi anak  tunarungu. Siswa  tunarungu merespon positif dan senang dengan pola penyusunan ruang belajar dan penataan furnitur sesuai konsep deafspace. Siswa  tunarungu bahkan mampu menyampaikan keinginan atau cita-cita mereka ketika berada di ruang kelas dengan suasana yang baru. Pemilihan warna hijau yang memberikan kesan segar dan tenang membuat rasa nyaman bagi anak  tunarungu ketika belajar sehingga bisa lebih fokus. Hasil akhir desain ruang kelas sebagai solusi dari masalah eksisting ruang, kebutuhan, dan aktivitas pengguna yang diharapkan mampu menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat mengenai anak  tunarungu dan memotivasi minat belajar anak  tunarungu yang sekaligus menjadi pedoman dalam perencanaan dan perancangan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>137565</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-10-10 09:56:11</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-10-10 10:42:47</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>