<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="137401">
 <titleInfo>
  <title>SINERGISME BACILLUS THURINGIENSIS  DAN STREPTOMISIN SULFAT 20% DALAM  MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU BAKTERI PADA TANAMAN NILAM ACEH (POGOSTEMON CABLIN BENTH)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>MEURAH INTAN</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>FakultasPertanian	Proteksi Tanaman (S1)</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Nilam adalah komoditas ekspor utama Indonesia, menyumbang 60% devisa minyak atsiri. Varietas unggul nilam Aceh, seperti Tapaktuan, Lhokseumawe, dan Sidikalang, memiliki kandungan minyak 2,5 - 5%. Penyakit layu bakteri pada tanaman Nilam, terutama disebabkan oleh Ralstonia solanacearum, juga dapat disebabkan oleh Kosakonia cowanii dan Enterobacter sp. Pengelolaan penyakit ini masih mengandalkan pestisida sintetik yang tidak ramah lingkungan. Perlu alternatif pengelolaan penyakit ramah lingkungan, seperti pemanfaatan agens hayati Bacillus thuringiensis dan antibiotik streptomisin sulfat 20%. Bacillus, sebagai agens biokontrol, efektif dalam mengkolonisasi akar dan bersporulasi, serta memiliki daya kompetisi terhadap patogen penyebab layu bakteri. Streptomisin sulfat 20% adalah antibiotik aminoglikosida yang diperoleh dari Streptomyces griceus dan spesies Streptomyces, yang dapat digunakan sebagai agen biokontrol terhadap Ralstonia solanacearum. Streptomisin sulfat digunakan untuk mengendalikan penyakit bakteri dan jamur pada tanaman. Penelitian ini mengombinasikan dua metode pengendalian: kimia dengan bakterisida streptomisin sulfat 20% dan biologi dengan agens hayati Bacillus thuringiensis. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sinergisme antara Bacillus thuringiensis dan streptomisin sulfat 20% dalam mengendalikan penyakit layu bakteri pada tanaman nilam.&#13;
Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) non-faktorial dengan 4 perlakuan: A0 (Kontrol), A1 (Bacillus thuringiensis), A2 (streptomisin sulfat 20%), dan A3 (Bacillus thuringiensis + streptomisin sulfat 20%),  terdiri dari 5 unit tanaman dan 5 ulangan per perlakuan, total 200 percobaan. Parameter yang diamati meliputi masa inkubasi patogen, intensitas serangan penyakit, tinggi tanaman, jumlah daun, serta bobot basah dan kering tanaman. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Bacillus thuringiensis + streptomisin sulfat 20% lebih efektif menekan perkembangan Enterobacter sp. Analisis ragam mengindikasikan semua perlakuan berpengaruh nyata terhadap masa inkubasi penyakit layu bakteri pada tanaman nilam. Rata-rata masa inkubasi penyakit layu bakteri pada tanaman nilam kontrol yaitu 42,36 HSI, sedangkan perlakuan B. thuringiensis + Streptomisin sulfat 20% memiliki masa inkubasi yakni 49,24 HSI. Perlakuan B. thuringiensis dan streptomisin sulfat 20%, baik secara terpisah maupun kombinasi, sangat mempengaruhi kejadian penyakit. Semua perlakuan menunjukkan intensitas serangan penyakit di bawah 50%, dengan perlakuan kontrol yang tidak menggunakan B. thuringiensis dan streptomisin sulfat memiliki kejadian penyakit tertinggi sebesar 45,52%. Sebaliknya, kombinasi B. thuringiensis dan streptomisin sulfat 20% menunjukkan penurunan penyakit yang paling signifikan, yaitu sebesar 21,88%. Kombinasi dari kedua perlakuan ini adalah yang paling efektif dalam mengurangi penyakit. Perlakuan dengan B. thuringiensis dan streptomisin sulfat 20% juga terbukti lebih efektif dalam meningkatkan tinggi tanaman, bobot basah, dan bobot kering secara signifikan dibandingkan kontrol. Kesimpulannya, kombinasi Bacillus thuringiensis dan streptomisin sulfat 20% menunjukkan sinergisme yang efektif dalam menekan perkembangan Enterobacter sp.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>137401</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-10-09 14:49:37</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-10-09 15:00:12</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>