<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="136985">
 <titleInfo>
  <title>IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM BAPAK ASUH ANAK STUNTING (BAAS) DALAM MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI KOTA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>DHEA FAHIRA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Politik</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kota  Banda  Aceh  mengalami  penurunan  prevalensi  stunting  dari  25,1%  menjadi 21,7%.  Meskipun  menunjukkan  kemajuan,  angka  ini  masih  di  atas  20%, menandakan bahwa stunting tetap menjadi masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian  serius  dan  masih  jauh  dari  target  pemerintah.  Dalam  menanggapi masalah  ini, BKKBN  meluncurkan Program Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS) sebagai  upaya  untuk  menurunkan  angka  stunting.  Namun,  program  ini  masih perlu  dievaluasi  untuk  memastikan  dampaknya.  Tujuan  penelitian  ini  untuk mengetahui  implementasi  Program  BAAS  dan  dampak  yang  dihasilkan  terhadap pembangunan  berkelanjutan  di  Banda  Aceh.  Metode  yang  digunakan  dalam penelitian  ini  adalah  kualitatif  deskriptif  dengan.  Teori  yang  digunakan  adalah teori  implementasi  kebijakan  dari  George  Edward  III,  yang  diukur  melalui indikator  komunikasi,  sumber  daya,  disposisi,  dan  struktur  birokrasi.  Hasil penelitian  menunjukkan  adanya  komunikasi  yang  terstruktur  dan  kolaborasi efektif  di  antara  pemangku  kebijakan  dalam  pelaksanaan  Program  BAAS. Program  ini  dikelola  dengan  berbagai  sumber  daya  yang  berpengalaman  dalam perencanaan,  pelaksanaan,  dan  evaluasi,  sehingga  memastikan  pelaksanaannya tepat  sasaran  dan  berkelanjutan.  Semua  pihak  memiliki  tanggung  jawab  dalam menjalankan  program,  menciptakan  sinergi  yang  diperlukan  untuk  mencapai tujuan.  Struktur  birokrasi  dari  tingkat  pemerintah  hingga  masyarakat  berperan penting  dalam  menuju  Banda  Aceh  sebagai  kota  bebas  stunting.  Dampak  dari implementasi  Program  BAAS  adalah  terciptanya  generasi  sehat,  peningkatan pengetahuan  masyarakat  mengenai  pencegahan  stunting,  serta  pengembangan sumber  daya  manusia  yang  berkualitas  untuk  pembangunan  berkelanjutan  di Banda Aceh.  &#13;
Kata Kunci : Implementasi Kebijakan, Stunting, Program BAAS, Pembangunan Berkelanjutan</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>136985</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-10-08 14:14:30</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-10-08 15:39:19</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>