<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="136745">
 <titleInfo>
  <title>PENERIMAAN DIRI REMAJA TUNANETRA DAN TUNADAKSA DI SLB BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Ahmad Mirza</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher></publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penerimaan diri dipandang sebagai kemampuan individu untuk menerima keadaan fisik, mental, dan sosialnya secara positif, meskipun memiliki keterbatasan. Tujuan penelitian ini untuk memahami makna penerimaan diri remaja penyandang tunanetra dan tunadaksa di Sekolah Luar Biasa (SLB) di Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan subjek yang dipilih secara purposive sampling. Subjek penelitian adalah remaja penyandang tunanetra dan tunadaksa yang bersekolah di SLBN Pembina Provinsi Aceh, SLB Negeri Banda Aceh, dan SLB Bukesra Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penerimaan diri remaja tunanetra dan tunadaksa berbeda-beda, sebagian menunjukkan bahwa mereka masih dalam tahapan untuk menerima dirinya dan selebihnya sudah pada tahapan penerimaan diri yang cukup baik. Proses penerimaan diri yang paling banyak dilalui adalah fase penolakan (denial). Faktor yang mempengaruhi adalah dukungan keluarga, keyakinan, hubungan pertemanan, dan dukungan dari pihak sekolah. Sementara faktor penghambat adalah internalisasi stigma, kurangnya dukungan sosial, dan tantangan psikososial.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>136745</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-10-08 10:14:22</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-10-08 10:23:53</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>