<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="136537">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH KETINGGIAN PERANGKAP LALAT BUAH MENGGUNAKAN METIL EUGENOL LALAT BUAH TERHADAP POPULASI LALAT BUAH PADA TANAMAN JAMBU AIR</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Putri Yawashli</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tanaman jambu air merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dikenal dengan karakteristik buahnya yang bervariasi dari asam  hingga manis, serta kandungan air dan vitamin yang melimpah. Buah ini sering menjadi komoditas pasar yang diminati oleh masyarakat. Namun, jambu air tergolong rentan terhadap serangan hama, yang dapat menjadi kendala dalam perdagangan internasional. Salah satu hama utama yang menyerang adalah lalat buah (Diptera: Tephritidae), yang dapat menginfestasi jambu air pada fase generatif, sehingga berdampak negatif pada kuantitas dan kualitas produksi. Untuk mengurangi dampak tersebut, para petani menggunakan berbagai metode, salah satunya adalah penerapanperangkap dengan senyawa atraktan metil eugenol. Metode ini dianggap efektif dan ramah lingkungan dalam pengendalian hama. Namun, posisi optimal dalam penempatan perangkap berdasarkan ketinggian belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi ketinggian penempatan perangkap metil eugenol terhadap populasi lalat buah pada tanaman jambu air.&#13;
Desain penelitian yang diterapkan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan empat variasi ketinggian perangkap dari permukaan tanah, yaitu 0,5 m, 1 m, 1,5 m, dan 2 m. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak enam kali, sehingga total terdapat24 unit pohon yang digunakan sebagai sampel. Tahapan pelaksanaan penelitian ini meliputi pemilihan lokasi penelitian: lokasi pertama adalah di Sektor Timur perumahan dosen, lokasi kedua di Asrama USK, dan lokasi ketiga di halaman Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.Penempatan perangkap pada pohon jambu air dilakukan secara acak di ketiga lokasi tersebut. Semua sampel lalat buah kemudian diidentifikasi, dihitung populasinya, dan dianalisis untuk mendapatkan indeks keanekaragaman lalat buah.&#13;
Penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat empat spesies lalat buah yang berhasil ditangkap menggunakan perangkap, yaitu Bactrocera dorsalis, B. carambolae, B. caryae, dan B. occipitalis.Spesies yang paling dominan di ketiga lokasi penelitian adalah B. dorsalis.Rata-rata jumlah populasi lalat buah tertinggi ditemukan pada ketinggian 2 meter, khususnya pada perlakuan T4. Indeks keanekaragaman lalat buah di setiap ketinggian, yaitu 0,5 m, 1 m, 1,5 m, dan 2 m, menunjukkan struktur komunitas yang relatif stabil, dengan tingkat sedang pada skala 3. Nilai indeks keanekaragaman tersebut adalah 1,34 (0,5 m), 1,27 (1 m), 1,33 (1,5 m), dan 1,35 (2 m).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di kawasan Komplek Pelajar Mahasiswa Kecamatan Darussalam, Banda Aceh, terdapat empat spesies lalat buah yang berhasil terperangkap, yaitu Bactrocera dorsalis, B. carambolae, B. caryae, dan B. occipitalis.Tinggi pemasangan perangkap terbukti memengaruhi jumlah populasi lalat buah yang tertangkap. Populasi tertinggi ditemukan pada perangkap dengan ketinggian 2 meter, diikuti oleh perangkap pada ketinggian 1 meter, 1,5 meter, dan yang terendah pada ketinggian 0,5 meter. Indeks keanekaragaman lalat buah untuk setiap perlakuan bervariasi antara 1,27 hingga 1,35, yang menunjukkan bahwa struktur komunitas berada dalam kategori stabil yang moderat.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>136537</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-10-07 21:44:49</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-10-08 07:10:08</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>