STRATEGI KOMUNIKASI TULAR NALAR MAFINDO DALAM PEMBERDAYAAN LITERASI DIGITAL PADA LANSIA DI KOTA BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

STRATEGI KOMUNIKASI TULAR NALAR MAFINDO DALAM PEMBERDAYAAN LITERASI DIGITAL PADA LANSIA DI KOTA BANDA ACEH


Pengarang
Dosen Pembimbing

Febri Nurrahmi - 198802242015042002 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2010102010013

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Komunikasi(S1) / PDDIKTI : 70201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas FISIP., 2024

Bahasa

Indonesia

No Classification

302.2

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Peningkatan penggunaan internet di kalangan lansia terus meningkat. Namun, keterbatasan keterampilan digital menjadikan lansia sebagai kelompok yang rentan terhadap penipuan digital. Pada tahun 2019, Aceh menjadi salah satu wilayah dengan tingkat penyebaran hoaks tertinggi di Indonesia. Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) melalui program Tular Nalar berupaya memberikan edukasi literasi digital kepada kelompok rentan termasuk lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi yang diterapkan oleh Mafindo Aceh dalam program pemberdayaan Tular Nalar Lansia di Kota Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan Teori Perencanaan oleh Charles Berger dan tahapan strategi komunikasi Hafied Cangara meliputi penelitian, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pelaporan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi non partisipan, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah enam orang, yaitu Koordinator Mafindo Aceh, dua fasilitator Tular Nalar, dan tiga lansia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang diterapkan oleh Mafindo Aceh kurang efektif. Terdapat beberapa aspek yang masih memerlukan perbaikan. Pada tahap penelitian, tidak terdapat penelitian lokal di Aceh, sehingga wilayah yang benar-benar membutuhkan edukasi literasi digital tidak dapat diidentifikasi secara optimal. Pada tahap perencanaan, waktu yang terbatas dan aturan dari pusat mempengaruhi efektivitas perencanaan. Pada tahap pelaksanaan, terdapat kekurangan dalam pengelompokan peserta dan kesiapan Mafindo pada hal yang tidak terduga selama pelaksanaan. Pada tahap evaluasi, tidak terdapat evaluasi mendalam terhadap pelaksanaan program, melainkan hanya evaluasi kognitif.

The increasing use of the internet among the elderly continues to rise. However, limited digital skills make seniors a vulnerable group to digital fraud. In 2019, Aceh became one of the regions with the highest rate of hoax dissemination in Indonesia. The Indonesian Anti-Hoax Society (Mafindo), through the Tular Nalar program, strives to provide digital literacy education to vulnerable groups, including the elderly. This research aims to understand the communication strategies employed by Mafindo Aceh in the Tular Nalar Program for elderly empowerment in Banda Aceh. This research uses Charles Berger’s Planning Theory and Hafied Cangara’s communication strategy stages, which include research, planning, implementation, evaluation, and reporting. The research method used is qualitative, with data collection techniques through interviews, non-participant observation, and documentation. There are six informants in this study: the Mafindo Aceh Coordinator, two Tular Nalar facilitators, and three elderly participants. The research results showed that the communication strategies applied by Mafindo Aceh were less effective. Several aspects still need improvement. In the research stage, there was no local research conducted in Aceh, making it difficult to optimally identify areas that genuinely needed digital literacy education. In the planning stage, limited time and regulations from the central organization affected the planning's effectiveness. In the implementation stage, there were shortcomings in participant grouping and Mafindo's readiness for unexpected issues during implementation. In the evaluation stage, there was no in-depth evaluation of the program's execution, with only a cognitive evaluation being conducted.

Citation



    SERVICES DESK