Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN RUANG BERMAIN RAMAH ANAK TAMAN RATU SAFIATUDDIN DI KOTA BANDA ACEH
Pengarang
RIDHA RIZKA MEILIA - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Bustami Usman - 195912311985011001 - Dosen Pembimbing I
Wais Alqarni - 199204262019031019 - Dosen Pembimbing I
Nomor Pokok Mahasiswa
1710104010055
Fakultas & Prodi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Pemerintahan (S1) / PDDIKTI : 65201
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik., 2024
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Salah satu kebijakan dalam menerapkan kota atau kabupaten layak anak, pemerintah sudah menetapkan Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA). RBRA adalah bagian dari program Kota Layak Anak (KLA). RBRA merupakan tempat kegiatan anak yang aman dan nyaman, terlindung dari kekerasan dan bahaya lainnya, tidak dalam kondisi yang diskriminatif, serta untuk pertumbuhan dan perkembangan anak yang berkelanjutan. Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Tim Penguatan Kesejahteraan Keluarga Aceh (TP-PKK) telah membuka sebuah Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) pada 3 Juli 2022 di Taman Ratu Safiatudin. Laju pertumbuhan perumahan di kota Banda Aceh yang sangat cepat, tetapi tidak seimbang dengan banyaknya jumlah ruang bermain anak semakin berkurang yang menjadi salah satu alasan didirikannya Ruang Bermain Ramah Anak di Taman Ratu Safiatuddin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana implementasi Ruang Bermain Ramah Anak Taman Ratu Safiatuddin di Kota Banda Aceh. Peneliti menggunakan teori implementasi Jones (1991) yang terdiri dari pilar-pilar organisasi, interpretasi, dan aplikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil temuan lapangan penelitian menyimpulkan bahwa pelaksanaan program Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) di Kota Banda Aceh belum optimal. Pada dimensi organisasi, masih banyak Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) yang belum terlibat dalam proses pelaksanaan RBRA ini yang mengakibatkan penataan unit-unit lembaga terkait belum berjalan dengan baik,sehingga RBRA yang dibangun saat ini belum berjalan maksimal. Pada dimensi Interpretasi, keterbatasan sarana dan prasarana yang ada menyebabkan SOP yang belum dapat dikelola secara penuh namun dukungan publik sangat antusias dalam penyelenggaraan program RBRA ini. Pada dimensi aplikasi, penerapan dan pelaksanaan program RBRA belum masih belum optimal dikarenakan sarana dan prasarana yang belum memadai. RBRA yang dibangun saat ini belum ada akses khusus atau fasilitas yang mendukung untuk anak disabilitas bermain pada RBRA tersebut. Penghitungan jumlah pengunjung yang datang juga belum dilakukan sehingga tidak dapat dipastikan dengan data yang akurat apakah RBRA ini sudah berjalan dengan baik atau tidak.
One of the policies in implementing a child-friendly city or district is that the government has established Child-Friendly Playrooms (CFP). CFP is part of the Child Friendly City (CFC) program. CFP is a place for children's activities that is safe and comfortable, protected from violence and other dangers, not in discriminatory conditions, and for children's sustainable growth and development. The Banda Aceh City Government through the Aceh Family Welfare Strengthening Team has opened a Child-Friendly Playroom (CFP) on July 3 2022 at Ratu Safiatudin Park. The rate of housing growth in the city of Banda Aceh is very fast, but it is not balanced with the decreasing number of children's play spaces, which is one of the reasons for establishing a Child-Friendly Playroom in Ratu Safiatuddin park. This research aims to analyze how the child-friendly play space at Ratu Safiatuddin park is implemented in Banda Aceh City. Researchers use Jones' (1991) implementation theory which consists of organizational pillars, interpretation, and application. The research method used is a qualitative method. The results of the research field findings concluded that the implementation of the Child Friendly Playroom (CFP) program in Banda Aceh City was not optimal. In the organizational dimension, there are still many Regional Work Units (RWU) that have not been involved in the CFP implementation process, which has resulted in the arrangement of related institutional units not running well, so that the CFP currently being built is not running optimally. In the Interpretation dimension, limited facilities and infrastructure have resulted in SOPs that cannot be fully managed, but public support is very enthusiastic in implementing this CFP program. In the application dimension, the implementation and implementation of the CFP program is still not optimal due to inadequate facilities and infrastructure. The CFP currently being built does not have special access or facilities that support disabled children playing at the CFP. Counting the number of visitors who come has also not been done so it cannot be ascertained with accurate data whether the CFP is running well or not.
ANALISIS KECUKUPAN TUTUPAN HIJAU HUTAN KOTA DAN TAMAN KOTA DI KOTA BANDA ACEH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Titi Rengga Sari, 2025)
PERSEPSI PENGUNJUNG TERHADAP RUANG PUBLIK DI KOTA BANDA ACEH SEBAGAI RUANG PUBLIK RAMAH ANAK (FAUZULLANA, 2024)
DINAMIKA KEBIJAKAN PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH KOTA BANDA ACEH RN (STUDI KASUS ALIH FUNGSI LAHAN PASAR MENJADI TAMAN) (Putri Balqis Najla, 2025)
PROFIL KESULTANAN ACEH DI BAWAH KEKUASAAN SULTANAH RATU TAJUL ALAM SAFIATUDDIN SYAH (1641-1675) (Fazil, 2024)
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TENTANG RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA BANDA ACEH TAHUN 2018-2020 (T. Putra Fachruramadhan, 2023)