<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="135009">
 <titleInfo>
  <title>PERBANDINGAN UKURAN TUBUH DAN OVIPOSITOR TAWON ARA POLINATOR DAN NON-POLINATOR YANG BERKEMBANG DALAM BUAH ARA DIOECIOUS FICUS HISPIDA L.</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Aulia Maharani</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher></publisher>
   <dateIssued></dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Ficus spp. merupakan kelompok tumbuhan dari Famili Moraceae yang banyak ditemukan di wilayah Indonesia, baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Genus Ficus, yang dikenal dengan nama pohon ara, mempunyai bunga unik dalam sistem tertutup yang disebut dengan sikonium sekaligus sebagai buah. Proses penyerbukan di dalam sikonium sangat bergantung pada tawon ara polinator, sebaliknya tawon ara polinator juga bergantung pada pohon ara untuk berkembangbiak. Selain itu, terdapat spesies tawon ara non-polinator yang juga berkembang di dalam sikonium yang sama. Tawon ara non- polinator meletakkan telur dengan menusukkan ovipositornya melalui dinding sikonium ke dalam gall yang sudah berisi telur oleh tawon ara polinator. Tawon ara non-polinator memiliki ciri khas ovipositor yang lebih panjang daripada panjang tubuhnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan ukuran tubuh dan ovipositor tawon ara polinator, dengan masing-masing spesies non-polinator yang berkembang pada buah ara Ficus hispida.&#13;
Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel sikonium F.  hispida di Desa Mon Ikeun Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar dan Pengukuran tubuh serangga dan panjang ovipositor tawon ara polinator dan non-polinator dilaksanakan di Laboratorium Pengendalian Hayati, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini menggunakan 10 sampel pohon F. hispida jantan. Pengambilan sampel sikonium dilakukan dengan cara memetik buah secara langsung menggunakan tangan atau menggunakan galah. Sampel yang didapat dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pemisahan antara tawon ara polinator dan non-polinator untuk diidentifikasi, kemudian diukur panjang tubuh dari kepala hingga ujung abdomen dan juga panjang ovipositor setiap sampel tawon ara yang telah didapat.&#13;
Hasil identifikasi secara morfologi diketahui bahwa tawon ara polinator pada F. hispida adalah spesies Ceratosolen solmsi marchali, sedangkan tawon ara non-polinator adalah Apocrypta bakeri, Philotrypesis pilosa, dan Philotrypesis sp. Komposisi seluruh tawon ara pada F. hispida didominasi oleh tawon ara polinator sebanyak 70, 82%. Tawon ara non-polinator spesies Philotrypesis pilosa dijumpai sejumlah 13,47%. Philotrypesis sp. sebesar 11,47% dan Apocrypta bakeri sebesar 4,24%. Ukuran tubuh tawon ara polinator berbeda sangat nyata dengan ukuran tawon ara non-polinator. Rata-rata ukuran tubuh tawon ara polinator 1,92 ± 0,01 mm sedangkan non-polinator berkisar 2,07mm ± 0,01mm sampai 2,09mm ± 0,01 mm. Panjang ovipositor tawon ara non-polinator berbeda sangat nyata dengan panjang ovipositor tawon ara polinator. Rata-rata panjang ovipositor tawon ara non-polinator A. bakeri 5,77mm ± 0,03 mm, P. pilosa 7, 64mm ± 0,07 mm dan Philotrypesis sp. 7, 48mm ± 0,08 mm, sedangkan panjang ovipositor tawon ara polinator hanya 0,84mm ± 0,00mm. Ukuran ovipositor tawon ara non-polinator lebih panjang hingga tiga kali lipat daripada ukuran tubuhnya. Perbedaan panjang ovipositor masing-masing spesies tawon ara berhubungan dengan cara meletakkan telur yang berbeda. Tawon ara polinator meletakkan telur dengan memasuki sikonium fase B melalui ostiole dan meletakkan telurnya langsung ke dalam gall. Sedangkan tawon ara non-polinator meletakkan telurnya melalui dinding buah, dengan menusukkan ovipositornya hingga menembus ke dalam gall yang sebelumnya sudah berisi telur dari tawon ara polinator. &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>135009</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-10-03 18:05:39</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-10-04 15:19:14</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>