PENGARUH WAKTU PENGADUKAN LAMBAT DAN JENIS KOAGULAN TERHADAP TINGKAT KEJERNIHAN PADA PROSES PENGOLAHAN AIR SUNGAI | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

PENGARUH WAKTU PENGADUKAN LAMBAT DAN JENIS KOAGULAN TERHADAP TINGKAT KEJERNIHAN PADA PROSES PENGOLAHAN AIR SUNGAI


Pengarang

Mohd Ichsan Nasution - Personal Name;

Dosen Pembimbing



Nomor Pokok Mahasiswa

0505105010016

Fakultas & Prodi

Fakultas Pertanian / Teknologi Hasil Pertanian (S1) / PDDIKTI : 41231

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2011

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Di Indonesia air permukaan merupakan salah satu sumber bahan baku air
bersih yang banyak dipakai, karena ketersediaannya yang mclimpah. Dalam
penyediaan air bersih khususnya air minum, selain kuantitas dan koatinuitasnya,
kualitasnya pun harus memenuhi standar yang berlaku. Air minum yang ideal
harus mempunyai karakteristik seperti jemih, tidak berwarna, tidak berasa, tidak
berbau, tidak mengandung kuman patogen dan segala mahluk hidup yang
membahayakan kesehatan manusia, tidak mengandung zat
kimia yang dapat mengubah fungsi tubuh, tidak meninggalkan endapan pada seluruh jaringan
distribusinya, tidak korosif dan lain-lain.
Metode pengolahan air khususnya air sungai yang umum digunakan
adalah pengolahan secara fisika-kimia, yakni koagulasi-flokulasi diikuti dengan
sedimentasi. Dalam proses koagulasi flokulasi biasanya digunakan aluminium
sulfat sebagai koagulan. Salah satu alternatif yang tersedia secara lokal adalah
penggunaan koagulan alami dari tanaman yang dapat diperoleh di sekitar kita
yakni tanaman kelor (Moringa oleifera L.) atau lebih dikenal sebagai bak
murong dalam bahasa Aceh. Tanaman kelor (Moringa o/eifera L.) banyak tumbuh
di daerah pedesaan propinsi Aceh dan masyarakat hanya memanfaatk an buah dan
daun mudanya untuk dirnakan sebagai sayur-sayuran, sedangkan bagian tanaman
lainnya belum termanfaatkan. Biji kelor yang sudah kering dapat dimanfaatkan
untuk penjenihan air karena mengandung zat
aktif rhamnosyloxy-benzil­ isothiocyanate yang dapat berfungsi sebagai bahan koagulan dan desinfektan.
Zat ini mampu menurunkan kandungan zat pencemar di dalam seperti kekeruhan,
warna, dan zat organik lainnya. Selain itu zat ini air bakteri juga mampu membunuh
koli yang terkandung di dalam air.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga
kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini terdiri dari 2 faktor, faktor variasi
waktu pengadukan lambat 40 rpm" (T) dan jenis koagulan (W). Faktor variasi
waktu pengadukan lambat 40 rpm" (T) terdiri dari 5 taraf, yaitu 5 menit (T), 10
menit (T), 15 menit (T3), 20 menit (T,), dan 25 menit (Ts). Faktor jenis koagulan
(W) terdiri dari 2 taraf, yaitu Aluminium sulfat (W,) dan serbuk biji kelor (W).
Analisis yang dilakukan terhadap air bahan baku dan air basil olahan meliputi
nilai pH, analisis kekeruhan, warna, kesadahan, analisis bakteri koli total, mangan
(Mn) dan besi (Fe).
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan terhadap variasi
jenis koagulan berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap kadar magnesium (Mg) dan kadar mangan (Mn); serta
berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap turbidity, wama dan bakteri E.coli.
Kombinasi terbaik untuk air olahan yang dihasilkan dari setiap perlakuan
yang diberikan adalah perlakuan jen.is koagulan aluminium sulfat dengan waktu
pengadukan lambat 25 menit.

Tidak Tersedia Deskripsi

Citation



    SERVICES DESK