<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="134937">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH     JENIS    DAN    KONSENTRASI    ANTIKEMPAL TERHADAP    LAMA   PENYIMPANAN   BUBUK   JAHE   (ZINGIBER  OFIFCINALE  ROSE.)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Nurdiah</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2007</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Bubuk jahe   diperoleh   dari   pengeringan  yang  dilanjutkan   dengan penghancuran  dengan menggunakan alat penggilingan,  produk ini  bewama putih kekuning-kuningan,  mengandung komponen volatil yang mudah menguap berupa zingiberen dan zingiberol.  Bubuk jahe tidak hanya dapat digunakan pada industri obat dan farmasi  tetapi  banyak digunakan pada industri  makanan sebagai  flavor alami  dan campuran seasoning.  Bubuk jahe yang diteliti adalah bubuk jahe yang berasal dari rimpangjahe bercabang dengan panjang sekitar  7 - 15 cm, lebar 3-6 cm dan tebal  1-2  cm.  Biasanya rimpang jahe berubah menjadi  batang setelah tanaman  berumur 9-  10  bu Ian.  Bubuk jahe yang dihasilkan  telah  mengalami beberapa  perlakuan  diantaranya  pengirisan,   pengeringan,   penggilingan, dan pengayakan.&#13;
Bubuk jahe memiliki karakteristik flavor yang tetap baik dalam penyimpanannya.  Namun bubuk ini bersifat sangat higroskopis sehingga kondisi demikian menyebabkan bubuk jahe memiliki kecenderungan untuk menggumpal selama  penyimpanan,  salah  satu bahan  yang dapat  mencegah bubuk mudah menggumpal adalah senyawa antikempal (anticaking agent).&#13;
Penelitian   ini   bertujuan   untuk   menentukan   jenis   dan   konsentrasi antikempal  yang terbaik terhadap lama  penyimpanan  bubuk jahe. Variabel  yang digunakan adalah jenis antikempal yang terdiri  dari  3  taraf,  yaitu  magnesium karbonat, kalsium stearat, dan kalsium silikat, dan konsentrasi antikempal yang terdiri dari empat taraf, yaitu 0% (kontrol),  1,5%,  1,75%, dan 2%.&#13;
Rimpang jahe segar dilakukan penyortiran kemudian dikupas setelah  itu dilakukan  pencucian pada bahan,  diiris  tipis menggunakan pisau dan dilakukan perendaman dengan larutan kapur selama 12 jam dilanjutkan dengan pengeringan beku  kemudian proses pengayakan.  Bubuk jahe sebanyak 50  gram mengalami pencampuran dengan zat antikempal dengan jenis dan konsentrasi berbeda, diaduk selama 1   menit sehingga merata secara sempurna dan disimpan selama 30 hari. Bubukjahe yang dihasilkan dianalisis rendemen (awal dan akhir), kadar air, kadar abu, kadar minyak atsiri, total mikroba, dan nilai organoleptik warna, aroma, dan tekstur.&#13;
Penelitian   ini   menggunakan Rancangan Acak Lengkap Pola  Faktorial&#13;
dengan   Uji   Lanjutan   Beda   Nyata  Terkecil.   Hasil   analisis   sidik   ragam menunjukkan jenis antikempal berpengaruh tidak nyata terhadap semua parameter yaitu rendemen (awal  dan akhir),  kadar air,  kadar abu, kadar minyak atsiri, total mikroba, dan nilai organoleptik (warna, aroma, dan  tekstur). Konsentrasi antikempal berpengaruh sangat nyata dengan rendemen awal dan akhir, kadar abu,&#13;
kadar  minyak atsiri,  total  mikroba, dan nilai  organoleptik  (warna dan tekstur), sedangkan konsentrasi antikempal  berpengaruh tidak nyata terhadap nilai organoleptik aroma dan berpengaruh nyata dengan kadar air.  Sedangkan  interaksi antara jenis dan konsentrasi  antikempal  berpengaruh tidak  nyata terhadap semua parameter yang diuji.&#13;
Berdasarkan  hasil  analisis bubuk jahe, perlakuan  terbaik pada penelitian  ini&#13;
secara organoleptik adalah antikempal magnesium  karbonat (warna dan tekstur), rendemen  (awal  dan  akhir),  kadar  air,  kadar minyak  atsiri,  kadar  abu, total mikroba diperoleh  pada  penambahan  konsentrasi  antikempal  2%  (K3)  dengan karakteristik bubuk jahe yang dihasilkan yaitu rendemen awall 104,3%,  rendemen akhir  108,23%,  kadar air 6,7%,  minyak atsiri  3,47%,  kadar abu 7,61%,  total mikroba 0,5%, nilai organoleptik warna 3,55%, dan tekstur 3,57%.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>134937</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-10-03 15:26:04</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-10-03 15:26:04</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>