<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="134315">
 <titleInfo>
  <title>A CONCEPTUAL MAPPING ANALYSIS OF DEATH METAPHOR IN ACEHNESE</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Rizki Amalia</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas KIP Pendidikan Bahasa Inggris</publisher>
   <dateIssued></dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Rizki Amalia. (2024). Analisis Pemetaan Konseptual Metafora Kematian dalam Bahasa Aceh. [Skripsi. Universitas Syiah Kuala]. Di bawah bimbingan Dr. Kismullah, S.Pd., M.App.Ling. dan Anisah, S.Pd., M.A.&#13;
&#13;
Penelitian ini membahas kesenjangan dalam dokumentasi dan klarifikasi metafora kematian di antara penutur bahasa Aceh, dengan menggunakan metode kualitatif dan pengambilan sampel secara purposif. Empat belas metafora yang berbeda untuk kematian dalam bahasa Aceh diidentifikasi, baik dalam bentuk kata maupun frasa. Metafora-metafora ini diklasifikasikan berdasarkan maknanya, yang mengungkapkan konotasi positif dan negatif. Ungkapan positif termasuk frasa seperti Innalillahi wa Innailairaji'un (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya), ka geu tinggai tanyoe (Dia telah meninggalkan kita), ka geu woe bak Tuhan (Telah pulang ke rumah Tuhan), ka geu cok pulang (Sudah pulang), ka geu jak (Sudah pergi), dan ka geu peulikôt dônya (Sudah meninggalkan dunia). Sebaliknya, istilah-istilah yang tidak sopan seperti ka matee [mati], ka keumah [Sudah selesai], dan kah wabah kireueh [Harapan akan mengikis seperti penyakit], diidentifikasi membawa konotasi negatif dan kurang menghormati yang biasanya dikaitkan dengan diskusi kematian. Penelitian ini juga menyoroti penggunaan bahasa kiasan oleh orang dewasa ketika menjelaskan kematian kepada anak-anak, seperti ka geujak [Sudah pergi] atau ka jak beut [Pergi belajar]. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang komprehensif tentang metafora kematian di Aceh, dengan menekankan nuansa budaya dalam ekspresi pengalaman manusia yang universal ini.&#13;
Kata kunci: Pemetaan konseptual, Metafora kematian, Analisis budaya</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>134315</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-10-01 17:10:11</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-10-02 15:27:10</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>