<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="133759">
 <titleInfo>
  <title>KEANEKARAGAMAN SEMUT (HYMENOPTERA:</title>
  <subTitle>FORMICIDAE) ARBOREAL PADA PERKEBUNAN KOPI ARABIKA DENGAN KERAPATAN POHON PENAUNG YANG BERBEDA</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Miftahul Huda Irba</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian Proteksi Tanaman</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Indonesia merupakan negara pengekspor kopi terbesar di dunia. Aceh merupakan salah satu provinsi dengan produksi kopi terbesar di Indonesia mampu memproduksi kopi hingga 75.300 ton pada tahun 2022. Budidaya kopi tidak terlepas dari peranan serangga, terutama semut yang dapat berperan sebagai predator hama, detritivor, dekomposer, dan polinator. Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi semut di suatu habitat pertanian adalah kerapatan pohon penaung. Penggunaan pohon penaung di perkebunan kopi memiliki beberapa fungsi seperti menaungi tanaman budidaya dari sinar matahari berlebih, menjaga dari intensitas curah hujan yang tinggi, dan menjadi habitat bagi semut arboreal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari keanekaragaman semut arboreal pada perkebunan kopi arabika dengan kerapatan pohon penaung yang berbeda.&#13;
	Penelitian ini dilakukan di empat lahan perkebunan kopi organik di Kabupaten Aceh Tengah, terdiri dari dua kebun kopi berpenaung jarang di Desa Lelabu dan Desa Daling sedangkan dua kebun kopi berpenaung rapat di Desa Atang Jungket. Tingkat kerapatan pohon penaung ditentukan berdasarkan jumlah pohon penaung dalam luasan plot sampel pengamatan dengan ukuran 35 m x 35 m. Apabila terdapat 35 pohon penaung atau lebih maka disebut kategori rapat dan apabila kurang dari 35 pohon penaung disebut kategori jarang. Plot sampel pengamatan dibagi menjadi 4 sub plot dimana dalam 1 sub plot berukuran 12 m x 12 m, kemudian untuk pengambilan sampel semut diambil 10 tanaman sampel di tiap sub plot. Pengambilan sampel semut diawali dengan menggoyangkan batang dan cabang tanaman kopi selama 3 menit untuk memancing semut keluar. Semut yang terlihat diambil menggunakan kuas dengan cara mengelilingi tanaman kopi selama 3 menit. Proses ini dilakukan 2 kali dengan total waktu yang diperlukan untuk tiap satu tanaman sampel adalah 12 (6x2) menit. Semut yang diambil kemudian dimasukkan ke dalam botol sampel yang berisi alkohol 70%, kemudian dibawa ke Laboratorium Pengendalian Hayati, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala untuk diidentifikasi. Adapun parameter yang diamati adalah komposisi spesies semut arboreal, kelimpahan individu semut arboreal, indeks kekayaan semut arboreal, indeks diversitas semut arboreal, indeks kemerataan semut arboreal, indeks dominansi semut arboreal, dan indeks similaritas semut arboreal.&#13;
	Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semut arboreal yang ditemukan dari empat kebun kopi terdiri dari 4 subfamili, 8 genus, dan 13 morfospesies. Kelimpahan semut arboreal menunjukkan hasil yang berbeda sangat nyata  antara kebun kopi berpenaung jarang dan rapat. Hal yang sama dijumpai pada indeks kekayaan spesies semut arboreal, indeks keanekaragaman semut arboreal, dan pada indeks dominansi semut arboreal. Sedangkan pada indeks kemerataan semut arboreal menunjukkan hasil berbeda nyata. Hasil analisis data pada indeks similaritas adalah 0,55 dan masuk ke kategori tinggi berdasarkan penilaian Sorensen. Setiap genus semut yang ditemukan memiliki peran ekologis yang berbeda seperti pemakan bangkai, hama, dan predator. Simpulan dari penelitian ini adalah perbedaan kerapatan pohon penaung pada kebun kopi di Aceh Tengah berpengaruh terhadap kelimpahan dan keanekaragaman semut arboreal.&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>133759</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-09-29 21:26:28</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-09-30 16:10:32</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>