<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="133197">
 <titleInfo>
  <title>MODEL MATEMATIKA KESULITAN BELAJAR ANAK DISKALKULIA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Budi Azhari</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pasca Sarjana / Prodi Doktor Matematika dan Aplikasi Sains (S3)</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Diskalkulia adalah gangguan belajar yang khusus mempengaruhi kemampuan matematika seseorang. Ini akan berdampak pada kehidupan sehari-hari anak dalam hal-hal yang melibatkan angka, seperti menghitung uang, mengukur jarak, atau memperkirakan waktu. Gangguan ini merupakan salah satu kesulitan belajar yang umum ditemukan pada anak-anak di sekolah dasar, selain kesulitan membaca (disleksia). Siswa diskalkulia akan menunjukkan kesulitan dalam pemahaman konsep atau serangkaian proses matematis, hal ini dikarenakan siswa akan sulit memusatkan konsentrasinya pada aktivitas belajar. Gangguan belajar ini menyebabkan siswa bermasalah berkaitan dengan memahami hubungan dengan angka (seperti; pecahan dan desimal, penambahan dan pengurangan, perkalian dan pembagian), memecahkan masalah dengan soal cerita, pemahaman sistem nomor, dan menggunakan strategi penghitungan yang efektif. Sehingga, diagnosis awal yang dilakukan dalam mengidentifikasi anak-anak diskalkulia di sekolah menjadi penting oleh guru dan lembaga pendidikan dalam memberikan respons untuk memberikan dukungan dan intervensi yang tepat. &#13;
Melalui identifikasi dan diagnosis yang tepat pada anak diskalkulia, maka akan memberikan gambaran bagaimana seharusnya intervensi dilakukan, untuk membantu anak diskalkulia mengatasi masalah belajar matematika. Namun, mengidentifikasi kondisi ini dapat menjadi tantangan karena tidak ada satu tes diagnostik tunggal yang dapat mengidentifikasi diskalkulia secara pasti. Sehingga dalam penelitian ini, peneliti juga menyusun instrumen untuk identifikasi diskalkulia, yang dikembangkan melalui serangkaian uji validitas dan reliabilitas dan melibatkan berbagai pihak ahli dari berbagai bidang terkait. Berdasarkan hasil penelitian ini, pada setiap variabel instrumen tes yang disusun, yakni X1 (Tipe A), X2 (Tipe B), dan X3 (Diskalkulia) telah menunjukkan validitas yang tinggi. Hal ini ditunjukkan dari semua item soal pada ketiga instrumen tes tersebut memiliki r-hitung yang melebihi r-tabel yakni 0,5140 dan 0,4132. Ini memastikan bahwa instrumen mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur dan mencerminkan konstruk dengan akurat. Demikian juga dengan hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa setiap variabel memiliki raw_alpha di atas 0,80, yang mencerminkan reliabilitas yang sangat tinggi. &#13;
Selain penyusunan instrumen tes, juga disusun perangkat pembelajaran dalam upaya membantu anak diskalkulia dapat mengatasi masalah yang dihadapinya. Salah satu cara intervensi yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan instruksi yang jelas dan terstruktur. Penelitian ini juga mengembangkan perangkat pembelajaran bagi anak yang teridentifikasi diskalkulia. Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan perangkat pembelajaran dalam upaya membatu kesulitan belajar matematika bagi anak diskalkulia dapat digunakan dengan dengan baik, karena telah mengikuti serangkaian uji coba dan diimplementasikan bagi anak diskalkulia dan memperoleh hasil yang positif. Hasil penelitian menunjukkan setelah uji coba dan implementasi memperoleh hasil yang positif, baik ditinjau dari aktivitas dan respons siswa, aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran, dan hasil belajar yang diperoleh siswa setelah diterapkan perangkat yang dikembangkan.&#13;
Pada penelitian ini, serangkaian proses penelitian mulai dari tes kemampuan dasar matematika, tes diskalkulia dan konfirmasi pada guru dan orang tua menjadi dasar untuk membangun model matematika, selain intervensi yang dilakukan dan kemudian dilakukan tes kembali untuk melihat keberhasilan proses treatmen yang dilakukan. Model SDTA (Susceptible – Dyscalculia – Treatment - Achivement) dibangun dengan menganalogikan model penyakit tidak menular model STIR. Model SDTA ini diformulasikan untuk merepresentasikan serangkaian proses dalam membantu anak dengan kesulitan belajar matematika. Sub populasi dalam model matematika anak diskalkulia ini, dibagi empat sub populasi yaitu siswa yang rentan berpotensi mengalami gangguan belajar (S), siswa yang teridentifikasi mengalami gangguan belajar diskalkulia (D), dan siswa yang mengikuti program intervensi melalui Treatment (T) yang dilakukan oleh guru dan tim peneliti, serta siswa yang telah mendapatkan mengatasi gangguan belajar diskalkulia (A). Berdasarkan fenomena dan dinamika lapangan diformulasikan persamaan diferensial dalam model non-dimensional. Dengan mempertimbangkan sistem persamaan ini, selanjutnya diperoleh dua titik ekuilibrium yaitu titik ekuilibrium bebas dari kesulitan belajar diskalkulia, dan titik ekuilibrium kesulitan belajar diskalkulia secara konsisten ada, namun terbatas pada lingkup tertentu. &#13;
Berdasarkan model SDTA, didapatkan menggambarkan transisi yang dialami siswa dari tahap rentan hingga mencapai tahap pemulihan. Simulasi yang telah dilakukan memberikan gambaran kuantitatif mengenai efektivitas intervensi atau treatment dalam membantu anak diskalkulia. Hasil simulasi model matematika menunjukkan bahwa terdapat siswa rentan (Susceptible) 171 orang siswa pada awal simulasi (hari ke-0), selanjutnya terjadi penurunan dramatis setelah dilakukan tes kemampuan dasar matematika dan tes diskalkulia. Pada hari ke 20 teridentifikasi 121 orang siswa positif diskalkulia. Pada materi pengenalan dan mengurutkan bilangan terdapat 59 orang siswa yang mengikuti program treatment. Setelah dilakukan intervensi melalui treatment oleh guru, siswa diskalkulia mengalami menurunan yang sangat drastis mulai hari ke 60 dan pada hari ke-70 sehingga berada pada titik nol. Sedikit berbeda dengan simulasi model pada materi operasi perkalian, hasil simulasi menunjukkan pada materi perkalian proses treatment sedikit memerlukan waktu yang lebih. Sehingga berdasarkan hasil simulasi model tergambarkan bahwa standar treatment dan ukuran durasi waktu yang tepat dan efektif dapat membantu anak diskalkulia mengatasi kesulitan belajar matematika siswa di sekolah.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>133197</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-09-26 07:25:03</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-09-26 11:17:48</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>